Refleksi 20 Tahun Gempa Jogja, UPN Veteran Gelar Jambore Bela Negara

  • 29 Jun 2026 20:43 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta menyelenggarakan Jambore dan Olimpiade Bela Negara 2026 di Kompleks Candi Prambanan pada Jumat-Minggu, 26-28 Juni 2026. Kegiatan ini mengusung tema "Bela Negara untuk Keadilan Energi dan Ketahanan Terhadap Bencana dalam Rangka Menghadapi Indonesia Emas Tahun 2045".

Jambore dan Olimpiade Bela Negara diselenggarakan untuk memperkuat implementasi nilai-nilai Bela Negara sekaligus refleksi peringatan 20 tahun Gempa Bumi Yogyakarta 2006. Total peserta yang mengikuti acara ini yakni 100 orang, yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, akademisi, politisi, praktisi, pelaku industri, dan budayawan.

Inisiator Jambore dan Olimpiade Bela Negara, Prof. Sari Bahagiarti Kusumayudha, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan sekaligus menguatkan nilai-nilai Bela Negara dalam kehidupan sehari-hari.

"Kegiatan Jambore dan Olimpiade Bela Negara pada dasarnya bertujuan untuk mengingatkan kembali para peserta tentang nilai-nilai Bela Negara, mengajak kembali mereka untuk

mengimplementasikan nilai-nilai Bela Negara dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sebatas jargon," ujar Prof. Sari.

Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan 20 tahun Gempa Bumi Yogyakarta 2006 sekaligus menyambut Dies Natalis ke-68 UPN "Veteran" Yogyakarta yang akan diperingati pada Desember mendatang. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk mengajak peserta merefleksikan pentingnya semangat kebangsaan melalui kepedulian terhadap sesama.

Sebagai bagian dari kegiatan, peserta diajak mengunjungi Monumen Gempa Yogyakarta di Dusun Potrobayan, Kabupaten Bantul, serta menelusuri kawasan terdampak erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Kunjungan lapangan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya mitigasi bencana, kesiapsiagaan, serta semangat gotong royong dalam menghadapi situasi darurat.

Prof. Sari menegaskan bahwa kepedulian terhadap penanggulangan bencana merupakan salah satu bentuk nyata implementasi nilai-nilai bela negara. Menurutnya, sikap tanggap darurat maupun kepedulian terhadap korban bencana merupakan wujud pengabdian kepada bangsa yang dapat dilakukan oleh setiap warga negara.

"Implementasi Bela Negara terkait kebencanaan, sikap tanggap darurat itu juga salah satu bentuk Bela Negara. Peduli terhadap korban bencana itu juga implementasi dari Bela Negara," ujarnya.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai kegiatan yang memadukan diskusi, pembelajaran, penguatan karakter, aksi sosial, hingga kompetisi bertema bela negara. Seluruh rangkaian dirancang untuk memperkuat pemahaman sekaligus mendorong praktik nyata nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara pembukaan di Lapangan UPN "Veteran" Yogyakarta pada Sabtu, 27 Juni 2026 yang dipimpin Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi, Machya Astuti Dewi. Setelah upacara, peserta menyaksikan demonstrasi penanganan bencana yang diperagakan oleh empat Unit Kegiatan Mahasiswa Bela Negara, yakni Menwa, Mapala, KSR, dan Pramuka.

Demonstrasi tersebut memperlihatkan praktik kesiapsiagaan dan respons tanggap darurat sebagai implementasi nyata nilai-nilai bela negara dalam menghadapi bencana. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Sarasehan Bela Negara bertajuk "Hamemayu Hayuning Bawana, Bela Negara Melalui Aksi Nyata" yang dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Hendro Widjanarko.

Sarasehan menghadirkan Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda TNI Sri Yanto, sebagai keynote speaker. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa nilai-nilai bela negara semakin penting di tengah tantangan strategis, mulai dari ketahanan energi, perubahan iklim, perkembangan teknologi, hingga dinamika global.

Menurut Sri Yanto, bela negara bukan hanya semangat nasionalisme, melainkan juga amanat konstitusi untuk menjaga identitas, membangun karakter, dan memperkuat jati diri bangsa. Ia menilai nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.

"Di sinilah Bela Negara hadir sebagai jawaban. Bela Negara bukan sekadar slogan atau semangat kebangsaan semata, melainkan panggilan moral dan amanat konstitusi untuk menjaga identitas, membangun karakter, serta memperteguh jati diri bangsa. Ini adalah fondasi utama yang harus kita bangun dan kita kokohkan dalam perjalanan panjang menuju Indonesia Emas 2045," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....