UGM Gerakkan 2.500 Petani untuk Kurangi Ketergantungan Impor Kedelai

  • 30 Mei 2026 21:42 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Universitas Gadjah Mada (UGM) terus mendorong penguatan produksi kedelai dalam negeri melalui pemanfaatan teknologi pertanian modern. Upaya ini dilakukan sebagai respons terhadap tingginya kebutuhan kedelai nasional yang belum mampu dipenuhi oleh produksi domestik.

Kebutuhan kedelai di Indonesia saat ini mencapai sekitar 2,67 juta hingga 2,76 juta ton per tahun. Sementara itu, produksi nasional pada 2024 tercatat tidak lebih dari 280 ribu ton. Kesenjangan tersebut mendorong perlunya langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Melalui tim peneliti Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, dikembangkan program Saekedelai atau Smart Agro Enterprise Kedelai, sebuah inovasi berbasis smart farming yang mengintegrasikan teknologi pertanian modern dengan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan. Program ini melibatkan sejumlah disiplin ilmu di UGM dan mendapat dukungan dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY, pemerintah daerah, industri, produsen benih, serta para petani.

Salah satu implementasinya diwujudkan melalui gerakan penanaman kedelai bertajuk “Bangkit Kedelai Yogyakarta”. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kedelai hingga mencapai 2,5–4 ton per hektare, jauh di atas rata-rata produktivitas tertinggi di DIY yang saat ini masih berada di kisaran 1,8 ton per hektare.

Kegiatan penanaman serentak digelar pada Minggu, 24 Mei 2026, di Dusun Gamparan, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman. Acara tersebut melibatkan Direktorat Pengembangan Usaha UGM, FTP UGM, KADIN DIY, pemerintah, industri, serta dinas pertanian terkait.

Ketua Program Saekedelai FTP UGM, Dr. Atris Suyantohadi, menjelaskan bahwa peningkatan kebutuhan kedelai nasional belum diimbangi dengan kemampuan produksi dalam negeri. Oleh karena itu, program ini dirancang untuk memperkuat kemandirian pangan melalui penerapan teknologi dan kolaborasi lintas sektor.

“Produksi kedelai dalam negeri belum mencukupi terhadap kenaikan kebutuhan bahan baku kedelai, terutama untuk para pengrajin tahu dan tempe di Indonesia. Ini karena banyak faktor yang saya lihat memang produktivitas petani masih terbilang sangat rendah,” katanya, Sabtu, 30 Mei 2026.

Dalam pelaksanaannya, Saekedelai mengadopsi berbagai teknologi cerdas, mulai dari sistem pemantauan iklim dan cuaca, penggunaan barcode untuk pelacakan hasil panen, hingga pemanfaatan Sistem Resi Gudang. Teknologi tersebut diterapkan secara terpadu dari tahap budidaya hingga distribusi ke sektor industri.

Atris mengatakan pengembangan platform ini dilakukan secara menyeluruh agar mampu mendukung peningkatan kualitas dan ketahanan pangan nasional berbasis kedelai.

“Dengan teknologi ini, dari hulu ke hilirisasi kedelai mulai kami kembangkan secara terstruktur, berkesinambungan, dan hampir menyeluruh menerapkan teknologi. Mulai dari persiapan penanaman, monitoring dengan monitoring field system, sampai traceability melalui sistem barcode dari petani hingga ke industri,” kata Atris.

Program yang mulai diimplementasikan pada 2026 tersebut melibatkan lebih dari 2.500 petani dengan cakupan lahan tanam mencapai lebih dari 300 hektare. Melalui kemitraan ini, UGM berharap produktivitas pertanian meningkat, pasokan kedelai bagi industri pangan lebih terjamin, serta benih unggul dapat terus dikembangkan.

“Program ini melibatkan sekitar 2.500 petani. Harapannya, tahu dan tempe yang kita konsumsi kedepan tidak lagi bergantung pada kedelai impor, tapi juga berasal dari produksi dalam negeri,” ujarnya.

Atris juga mengungkapkan bahwa peluang pasar kedelai Indonesia mulai menarik perhatian pembeli dari luar negeri. Karena itu, peningkatan kualitas produksi dan penguatan kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi faktor penting untuk mendukung kesejahteraan petani sekaligus memperluas pasar.

“Beberapa pembeli dari luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura, juga telah menemui kami. Apabila produksi kedelai yang memenuhi standar mutu dan produktivitas dapat ditingkatkan secara signifikan,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....