UGM Dorong Pangan Biru Jadi Pilar Ketahanan Pangan Nasional
- 28 Jul 2026 13:36 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Potensi sumber daya perairan dinilai perlu dimanfaatkan secara lebih optimal untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Di tengah tantangan perubahan iklim, pertumbuhan jumlah penduduk, dan ancaman krisis pangan, pengembangan pangan biru (blue food) menjadi salah satu strategi yang dinilai mampu menjawab kebutuhan pangan masa depan.
Pangan biru merupakan seluruh jenis pangan yang berasal dari perairan, baik laut maupun air tawar, seperti ikan, kerang, dan rumput laut yang diperoleh melalui penangkapan maupun budidaya.
Dekan Fakultas Pertanian UGM Prof. Ir. Jaka Widada, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan sektor tersebut karena sekitar 70 persen wilayahnya berupa lautan. Menurutnya, ketahanan pangan pada masa mendatang tidak lagi hanya bertumpu pada hasil pertanian darat, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan.
Ia menegaskan pengembangan pangan biru membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, dan kolaborasi lintas sektor agar mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kekayaan perairan juga harus dikelola secara bijaksana, inovatif, dan berkelanjutan. Di sinilah ilmu pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menghasilkan solusi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Jaka Widada dalam Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan (SEMNASKAN-UGM XXIII) dengan mengusung tema bertajuk “Blue Foods: Potensi dan Pengelolaan Berkelanjutan Sistem Pangan Biru Berbasis Perairan Lokal” pada Sabtu, 25 Juli 2026 di Auditorium Harjono Danoesastro.
Senada dengan itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menilai pangan biru memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat. Menurutnya, potensi tersebut perlu diperkuat melalui kebijakan, riset, pengembangan teknologi, dan peningkatan konsumsi ikan di tengah masyarakat.
“Dukungan kebijakan, riset maupun teknologi, blue food nantinya benar-benar menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kita,” ujar Danang.
Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Erwin Dwiyana menjelaskan transformasi sistem pangan biru menjadi semakin penting seiring proyeksi jumlah penduduk dunia yang diperkirakan mencapai 9,66 miliar jiwa pada 2050. Kondisi tersebut diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan protein ikan hingga 67 persen.
Di sisi lain, sistem pangan berbasis daratan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan lahan, dampak perubahan iklim, degradasi lingkungan, hingga alih fungsi lahan pertanian. Karena itu, menurut Erwin, pengembangan pangan biru harus mengedepankan aspek ketersediaan, keterjangkauan, pemenuhan gizi, mutu dan keamanan pangan, serta keberlanjutan agar tercipta sistem pangan yang tangguh dari hulu hingga hilir.
“Transformasi blue food harus diarahkan pada peningkatan produktivitas, pengembangan produk bernilai tambah, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Dosen Departemen Perikanan UGM Dr. Nurfitri Ekantari, memaparkan hasil penelitiannya mengenai pemanfaatan mikroalga dan makroalga sebagai bahan baku pangan. Menurutnya, inovasi tersebut dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pangan biru dengan mengintegrasikan alga ke dalam berbagai produk konsumsi sehari-hari, seperti mi, mochi, dan es krim.
“Mari kita beraksi dengan kolaborasi untuk menciptakan makanan yang lezat, karena tidak akan ada artinya makanan yang kita buat dengan macam-macam kalau tidak lezat dan meningkatkan minat masyarakat,” ujarnya.
Ketua Panitia Seminar, Dr. Susana Endah Ratnawati, mengatakan SEMNASKAN-UGM XXIII menjadi wadah berbagi hasil penelitian sekaligus memperkuat kolaborasi dalam pengembangan sektor perikanan dan kelautan di Indonesia. Seminar tersebut diikuti 109 pemakalah, empat peserta nonpemakalah, serta perwakilan dari 15 institusi dan perguruan tinggi di berbagai daerah.
Melalui forum ilmiah ini, UGM berharap lahir berbagai inovasi dan kolaborasi yang mampu memperkuat sistem pangan berbasis sumber daya perairan secara berkelanjutan, sekaligus meningkatkan daya saing sektor perikanan nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....