Walang Goreng Tetap Bertahan, Jadi Andalan Ekonomi Warga Gunungkidul
- 30 Mei 2026 21:47 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Gunungkidul – Walang goreng atau belalang goreng tetap menjadi salah satu kuliner khas Gunungkidul yang banyak dicari wisatawan. Di balik popularitas makanan tradisional tersebut, tersimpan kisah perjuangan para pelaku usaha yang menjadikannya sebagai sumber penghidupan, salah satunya Surya, pedagang walang goreng yang telah menekuni usaha ini selama lebih dari dua dekade.
Warga yang bermukim di kawasan Jalan Baron, Gunungkidul itu mengungkapkan bahwa dirinya mulai berjualan walang goreng sejak tahun 2002. Pada awalnya, usaha tersebut hanya dijalankan sebagai pekerjaan tambahan. Namun seiring waktu, usaha itu berkembang dan menjadi mata pencaharian utama bagi keluarganya.
“Awalnya dulu hanya coba-coba untuk sampingan saja. Tetapi lama-lama karena banyak yang suka dan memang sudah nyaman jualan, akhirnya jadi usaha utama sampai sekarang. Kadang satu hari gak bawa uang juga pernah karena pas sepi pembeli. Tetapi sejauh ini tetap masih ada untungnya, alhamdulillah,” ujar Surya saat ditemui di lapaknya di kawasan Jalan Jogja-Wonosari, Gunungkidul.
Saat ini Surya hanya menjual walang goreng dari jenis belalang padi. Sebelumnya ia juga menjajakan belalang kayu yang berukuran lebih besar, namun keberadaan jenis tersebut kini semakin sulit ditemukan.
“Dulu ketika awal-awal berjualan masih gampang dicari belalang kayunya. Tetapi sudah susah sekarang carinya. Misal sehari cari belum tentu dapat setengah kilogram. Sekarang sudah jarang,” kata Surya.
Untuk memperoleh bahan baku belalang padi, perburuan biasanya dilakukan pada malam hari, terutama ketika musim panen. Dengan bantuan cahaya senter, belalang lebih mudah ditangkap karena cenderung diam saat terkena sorotan cahaya.
“Kalau siang biasanya pada loncat dan kabur. Tetapi kalau malam kena cahaya senter justru diam, jadi lebih mudah ditangkap,” kata Surya.
Dalam satu kali berburu, hasil tangkapan rata-rata mencapai satu botol air mineral ukuran besar. Setelah diolah, satu kilogram belalang dapat menghasilkan sekitar delapan toples produk siap jual. Setiap toples dipasarkan dengan harga Rp30.000, sementara harga belalang padi mentah dari para pemburu mencapai Rp150.000 per kilogram.
Proses pengolahannya tergolong sederhana. Belalang yang telah dibersihkan direndam menggunakan campuran bawang putih, garam, dan penyedap rasa, kemudian digoreng hingga renyah. Surya menawarkan dua pilihan rasa, yakni gurih dan pedas.
“Kalau hari biasa bisa terjual sekitar 15-20 toples. Kalau hari libur bisa 50 toples per penjual. Dulu mungkin satu hari 30 toples saja masih bisa, tetapi kalau hari-hari seperti ini susah untuk terjual 30 toples per harinya,” ujar Surya.
Meski bagi sebagian orang tergolong makanan ekstrem, walang goreng tetap memiliki banyak penggemar. Selain cita rasanya yang khas, makanan ini juga dipercaya memiliki kandungan protein yang tinggi. Produk Surya tidak hanya dijual langsung kepada konsumen, tetapi juga dipasok ke sejumlah pusat oleh-oleh di Gunungkidul.
“Masuk ke sekitar empat sampai lima pusat oleh-oleh,” kata Surya.
Dalam aktivitas sehari-hari, Surya membuka lapaknya mulai pukul 08.00 WIB hingga sekitar pukul 16.30 WIB. Pada akhir pekan, waktu berjualannya biasanya diperpanjang hingga pukul 18.00 WIB untuk melayani lebih banyak wisatawan.
Ia juga menjelaskan bahwa walang goreng dapat tetap renyah hingga dua minggu apabila disimpan dalam wadah tertutup rapat. Jika ingin dinikmati dalam kondisi hangat, produk tersebut cukup dipanaskan kembali dengan api kecil.
Menurut Surya, terdapat sekitar 15 pedagang walang goreng di sepanjang Jalan Jogja-Wonosari yang berasal dari kampung yang sama. Masing-masing menawarkan ciri khas dan cita rasa tersendiri. Di tengah tantangan menurunnya jumlah wisatawan dan semakin sulitnya mendapatkan bahan baku, ia tetap bersyukur usaha kuliner tradisional ini masih mampu bertahan dan menjadi sumber penghasilan bagi banyak warga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....