Jogja Financial Festival 2026 Dibuka, Buka Cakrawala Literasi Keuangan Inklusif

  • 22 Mei 2026 14:12 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Jogja Financial Festival 2026 resmi dibuka di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Jumat, 22 Mei 2026. Festival yang berlangsung selama dua hari ini menjadi wadah kolaborasi antara regulator, pelaku industri keuangan, akademisi, komunitas, hingga masyarakat umum untuk meningkatkan literasi keuangan dan mendorong terciptanya ekosistem keuangan yang inklusif serta berkelanjutan.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Transmedia Group bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta berbagai pelaku industri keuangan tersebut diproyeksikan dihadiri lebih dari 10.000 peserta dari berbagai daerah dan lintas generasi.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menyampaikan Jogja Financial Festival tidak sekadar menjadi ajang pameran lembaga keuangan maupun forum seminar.

“Festival ini akan mengubah pendekatan literasi keuangan. Edukasi keuangan tidak boleh eksklusif dan hanya dipahami regulator maupun pelaku industri. Literasi harus hadir dalam bahasa yang sederhana, populer, kreatif, dan dekat dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya, saat memberikan sambutan.

Penyelenggaraan festival juga melibatkan berbagai elemen, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, komunitas kreatif, UMKM, media digital, hingga pelaku seni dan olahraga.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyambut baik penyelenggaraan Jogja Financial Festival sebagai ruang bersama untuk menata arah kebijakan, budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi agar tidak hilang dari martabat manusia ditengah perkembangan zaman yang pesat.

“Saya ingin mengajak kita semuanya untuk melihat literasi finansial dalam cakrawala yang lebih luas. Apa yang sedang kita bangun bukan hanya program periodik, bukan sebagai gerakan moralisme yang menggurui melainkan sebagai kesadaran kolektif bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang cerdas mengelola sumber dayanya,” ujarnya.

Menurutnya, literasi keuangan tidak hanya penting di ruang akademik dan perumusan kebijakan, tetapi juga harus hadir di lingkungan keluarga, obrolan antar generasi, usaha kecil, hingga dunia Pendidikan.

Sementara itu, Rektor UGM, Ova Emilia, turut mengapresiasi penyelenggaraan festival tersebut. Menurutnya, literasi keuangan saat ini tidak hanya berkaitan dengan pemahaman mengenai tabungan, investasi, kredit, maupun asuransi, tetapi juga kemampuan mengelola risiko di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Ova mengungkapkan kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital kerap diiringi berbagai risiko yang belum sepenuhnya dipahami oleh generasi muda. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian mahasiswa terjebak dalam situasi keuangan yang merugikan.

“Perkembangan teknologi digital berdampak pada kemudahan akses tetapi juga kemudahan itu diimbangi dengan adanya resiko sehingga pemahaman resiko ini sangat sangat diperlukan agar tidak berubah menjadi kerentanan,” ucapnya.

Ia berharap mahasiswa dan pelajar tidak hanya menjadi pengguna produk keuangan, tetapi juga mampu menjadi inovator, wirausahawan, investor produktif, dan pencipta nilai bagi masyarakat.

Selain menghadirkan berbagai diskusi dan kelas edukatif, festival ini juga dimeriahkan dengan kehadiran sejumlah booth interaktif, talkshow bersama tokoh nasional, serta penampilan seumlah artis ternama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....