Cahaya Pradipta Memenangkan Sayembara Ikon Baru Gerbang Keistimewaan DIY

  • 21 Jul 2026 15:29 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Sebuah karya yang terinspirasi dari cahaya matahari di kawasan perbukitan kapur Rongkop, Gunungkidul, berpeluang menjadi ikon baru gerbang masuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Desain bertajuk "Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta" karya Marcelo Diaz Octavianus ditetapkan sebagai Juara I Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY 2026.

Pemenang karya itu setelah melalui proses penilaian dewan juri dan memperoleh persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Dewan Juri Kehormatan.

Pengumuman pemenang disampaikan dalam penjurian tahap final Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY yang berlangsung di Ruang Gadri Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin, 20 Juli 2026. Sayembara yang digelar Pemda DIY melalui Biro Tata Pemerintahan Setda DIY ini bertujuan menghadirkan penanda perbatasan yang tidak hanya berfungsi sebagai gerbang wilayah, tetapi merepresentasikan identitas, filosofi, dan nilai Keistimewaan DIY.

Kepala Biro Tata Pemerintahan Setda DIY, Nuri Achadiyanti, menjelaskan dewan juri menetapkan lima karya terbaik pada tahap akhir penilaian. Juara I diraih peserta SP-022 melalui karya Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta, disusul karya Watujaga sebagai Juara II, Catur Gatra Tunggal: Penanda Perbatasan DIY sebagai Juara III, Ngayomi Budaya Kukuh sebagai Harapan I, serta Regol Keistimewan Yogyakarta sebagai Harapan II.

Penghargaan kepada para pemenang kemudian diserahkan oleh Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, Direktur Utama Bank BPD DIY Santoso Rohmad, serta jajaran dewan juri yang terdiri atas Prof. Ikaputra, Suyata, dan Erlangga Winoto.

Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menilai tingginya minat peserta dari berbagai daerah di Indonesia menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap pembangunan identitas ruang di DIY. Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan upaya Pemda DIY memperkuat karakter daerah melalui ruang publik yang sarat makna budaya.

"Sesuai pesan Bapak Gubernur, ini bukan cuma soal batas fisik. Ada pesan budaya di dalamnya," ujar Ni Made.

Ia menegaskan hasil sayembara diharapkan tidak berhenti pada tahap konsep, tetapi dapat diwujudkan menjadi pembangunan nyata yang memperkuat citra DIY sebagai daerah berbudaya.

"Harapannya jelas. Ini tidak boleh berhenti jadi draf desain yang menumpuk. Harus benar-benar berlanjut ke tahap realisasi pembangunan," katanya.

Perancang karya pemenang, Marcelo Diaz Octavianus, mengaku inspirasi desain lahir saat melakukan survei di kawasan Rongkop. Warga Wonosari itu mengatakan sempat mengalami kebuntuan ide sebelum akhirnya melihat cahaya matahari yang menembus celah perbukitan kapur.

"Cahaya Pradipta merupakan cahaya yang menerangi. Saat survei di lokasi, saya melihat gunung kapur yang terbelah dan di tengahnya terlihat cahaya matahari. Dari situ saya mendapatkan inspirasi bahwa cahaya tersebut seperti menuntun saya menuju sesuatu yang baik, menuju Jogja," ujarnya.

Konsep tersebut kemudian diwujudkan dalam desain yang mengangkat simbol cahaya sebagai elemen utama. Menurut Diaz, cahaya menjadi metafora keramahan, harapan, dan keterbukaan Yogyakarta bagi setiap orang yang memasuki wilayah DIY.

"Saya ingin identitas Jogja semakin kuat dengan menambahkan unsur-unsur khas Yogyakarta. Di situ ada kehangatan dan budaya yang ingin saya tampilkan agar lebih dikenal masyarakat luas. Jadi ketika orang memasuki Jogja dari perbatasan, mereka langsung merasakan seperti apa Jogja itu sebenarnya," katanya.

Ketua Dewan Juri, Prof. Ikaputra, menjelaskan proses seleksi berlangsung cukup panjang. Sejak dibuka pada 17 April 2026, sayembara berhasil menarik sekitar 400 pendaftar dari berbagai daerah. Setelah melalui tahapan verifikasi, sebanyak 124 karya dinyatakan memenuhi syarat sebelum disaring menjadi 10 besar hingga lima finalis terbaik.

Menurut Ikaputra, karya Cahaya Pradipta unggul karena memiliki karakter visual yang kuat sekaligus memberi ruang pengembangan pada tahap desain lanjutan.

"Salah satu kelebihan karya ini adalah kesan pertama yang muncul ketika melihat tetenger tersebut. Bentuknya cukup unik dan tidak biasa. Ini merupakan pradesain yang masih bisa dikembangkan lebih jauh, termasuk eksplorasi ketinggiannya. Namun secara visual, baik pada siang maupun malam hari, karya ini sudah terlihat sangat kuat, unik, dan spektakuler," ucap Ikaputra.

Ia menambahkan, penilaian tidak hanya mempertimbangkan estetika, tetapi juga aspek konstruksi, material, kesesuaian dengan lingkungan, serta kemampuan desain dalam merepresentasikan nilai budaya DIY.

"Kami memiliki kesatuan pandangan bahwa karya juara pertama memiliki karakter yang sangat ikonik. Ketika pertama kali melihatnya, langsung muncul kesan berbeda. Bentuknya kuat, unik, dan memiliki daya tarik visual yang tetap menonjol baik pada siang maupun malam hari. Potensinya sangat besar untuk menjadi identitas baru kawasan perbatasan DIY," katanya.

Sayembara ini difokuskan untuk mencari desain penanda perbatasan di dua koridor strategis DIY, yakni Rongkop di Kabupaten Gunungkidul dan Sindutan di Kabupaten Kulon Progo. Karya terbaik nantinya akan menjadi acuan dalam pengembangan gerbang perbatasan yang diharapkan mampu memperkuat identitas ruang, menegaskan citra Keistimewaan DIY, sekaligus menjadi landmark baru yang memadukan nilai budaya, arsitektur, dan semangat kemajuan daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....