Langencarita, Seni Tradisi untuk Bentuk Karakter Anak
- 19 Mei 2026 13:46 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Di tengah derasnya arus budaya digital dan hiburan instan, Yogyakarta terus menjaga ruang-ruang pembelajaran berbasis budaya untuk anak. Salah satunya melalui Langencarita, seni pertunjukan tradisional yang memadukan tembang, tari, dan gamelan, yang kembali dihadirkan melalui Festival Langencarita DIY 2026.
Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Langencarita menjadi media edukasi budaya yang menyenangkan untuk menanamkan nilai-nilai karakter dan mengenalkan pesan kehidupan kepada anak sejak dini, sejalan dengan konsep pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara.
Alunan gamelan terdengar memenuhi ruang Societeit Militaire Taman Budaya Yogyakarta pada Jumat, 9 Mei 2026. Di atas panggung, anak-anak tampil percaya diri membawakan tembang Jawa, gerak tari, dan dialog sederhana yang sarat makna kehidupan. Mengenakan busana tradisional, mereka tidak hanya tampil menghibur, tetapi juga belajar memahami nilai budaya melalui pengalaman yang menyenangkan.
Festival Langencarita Anak se-Kabupaten/Kota DIY yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menjadi salah satu upaya menjaga keberlangsungan seni tradisi di tengah perkembangan zaman. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pembinaan generasi muda melalui seni pertunjukan berbasis budaya Jawa.
Mengusung tema “Cinta Alam dan Kesadaran Lingkungan”, setiap kontingen menampilkan kisah yang dekat dengan keseharian anak-anak. Mulai dari pentingnya menjaga kebersihan, merawat lingkungan, hingga hidup rukun dan saling menghormati, seluruh pesan tersebut dikemas ringan melalui perpaduan tembang, tari, akting, dan iringan gamelan.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menegaskan bahwa Langencarita tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga merupakan bagian penting dari pendidikan budaya yang hidup. Menurutnya, seni tradisi ini sejalan dengan gagasan pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menempatkan seni sebagai media pembentukan karakter anak.
“Melalui Langencarita, anak-anak belajar tata krama, kebersamaan, disiplin, kepekaan rasa, hingga nilai kemanusiaan. Karena itu festival ini sesungguhnya adalah ruang pendidikan budaya yang hidup,” ujar Dian.
Ia menjelaskan, proses yang dijalani peserta mulai dari seleksi tingkat kabupaten/kota, workshop, hingga pembinaan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan artistik, tetapi juga memperkuat karakter dan kecintaan terhadap budaya lokal.
Festival ini juga tidak dimaknai sebatas ajang perlombaan. Nilai kebersamaan, semangat saling mendukung, dan tumbuh bersama dalam kebudayaan menjadi bagian penting yang terus dijaga. Anak-anak diajak memahami bahwa seni tradisi bukan sesuatu yang usang, melainkan ruang kreatif yang dekat dengan kehidupan mereka.
Tema “Cinta Alam dan Kesadaran Lingkungan” yang diangkat tahun ini juga selaras dengan filosofi luhur masyarakat Yogyakarta, yakni Hamemayu Hayuning Bawana, yang mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan kehidupan. Melalui panggung Langencarita, anak-anak diperkenalkan pada pemahaman bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam dan memiliki tanggung jawab untuk menjaganya bersama.
Lima kontingen terbaik dari kabupaten dan kota se-DIY turut menampilkan pertunjukan khas masing-masing, yakni Gunungkidul melalui “Ngrumat”, Kota Yogyakarta dengan “Ngunduh Wohing Pakarti”, Kulon Progo lewat “Resik Agawe Becik”, Sleman melalui “Njaga Bumi Lestari”, serta Bantul dengan “Wohing Pakarti”.
Melalui tangan generasi muda, Langencarita terus menemukan bentuk baru yang lebih segar dan dekat dengan kehidupan anak masa kini. Dari Yogyakarta, seni tradisi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh melalui panggung budaya yang hangat, riang, dan penuh makna.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....