Perkuat Kesenian Islam, Kemenag DIY Gelar Sarasehan Rebana dan Hadroh
- 03 Sep 2026 17:05 WIB
- Yogyakarta
RRI,CO,ID, Yogyakarta – Seni rebana atau hadroh didorong tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dikembangkan sebagai media dakwah sekaligus upaya melestarikan seni dan budaya Islam. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Pembinaan Seni Budaya Islam melalui Sarasehan Rebana/Hadroh Daerah Istimewa Yogyakarta yang digelar di Aula Lantai 3 Kanwil Kemenag DIY, Kamis 3 September 2026.
Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) Kanwil Kemenag DIY, Abd. Su’ud, yang membuka kegiatan tersebut mengatakan, pembinaan seni budaya Islam perlu kembali digerakkan secara berkelanjutan. Menurutnya, pada tahun-tahun sebelumnya terdapat dukungan anggaran untuk pengembangan seni budaya Islam, termasuk qasidah dan berbagai kegiatan keagamaan. Namun, program tersebut sempat mengalami keterbatasan karena dukungan anggaran yang tidak lagi tersedia.
“Karena nomenklaturnya adalah seni budaya Islam, maka hadroh, rebana, maupun qasidah merupakan bagian yang perlu kita gerakkan bersama. Mudah-mudahan kegiatan ini dapat langgeng dan terus bergulir, tidak hanya dalam bentuk pembinaan, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan seni budaya Islam secara menarik,” ujar Abd. Su’ud.
Ia menjelaskan, seni pada dasarnya memiliki berbagai fungsi, antara lain sebagai hiburan, sarana relaksasi, dan media dakwah. Dalam konteks hadroh, fungsi dakwah menjadi salah satu aspek penting karena lantunan yang dibawakan umumnya berisi puji-pujian kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
“Hadroh sangat mungkin ditempatkan sebagai seni yang berfungsi sebagai media dakwah. Karena itu, kita perlu memahami bahwa setiap lantunan dan ketukan yang dibawakan bukan sekadar hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menghadirkan hati dan menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW,” ujarnya.
Abd. Su’ud juga menyinggung perjalanan sejarah hadroh yang berkembang melalui proses akulturasi budaya. Menurutnya, para ulama dan tokoh Islam di Nusantara sejak dahulu telah memanfaatkan kesenian sebagai sarana untuk mengumpulkan masyarakat sekaligus menyampaikan pesan-pesan keagamaan.
Ia mencontohkan pendekatan dakwah yang dilakukan para Wali Songo, termasuk Sunan Kalijaga, melalui berbagai kesenian dan tradisi masyarakat seperti tembang, wayang, gamelan, serta Sekaten. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa dakwah dapat berjalan beriringan dengan budaya lokal selama nilai-nilai Islam tetap menjadi landasan.
“Sejarah hadroh memiliki perjalanan yang panjang. Seni ini tidak hanya berkaitan dengan musik, tetapi juga pernah menjadi bagian dari strategi dakwah dan penguatan masyarakat. Karena itu, jangan sampai kita patah semangat hanya karena persoalan teknis seperti seragam atau keterbatasan lainnya,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan seni budaya Islam perlu memperhatikan tiga aspek utama, yakni konten, penampilan, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Konten atau pesan yang disampaikan menjadi hal paling utama karena menentukan nilai dakwah dalam sebuah pertunjukan.
“Yang pertama adalah kontennya. Pesan yang disampaikan harus membawa nilai-nilai Islam dan menjadi bagian dari dakwah. Kedua adalah penampilan, yang harus sopan dan mencerminkan nilai-nilai Islami. Ketiga, medianya harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar seni budaya Islam tetap menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia, Ujang Sihabuddin, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut digagas untuk menghidupkan kembali pembinaan kelompok rebana atau hadroh yang ada di DIY. Kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk membangun jejaring dan pendataan kelompok hadroh di tingkat kabupaten/kota.
“Kami berharap forum hadroh ini dapat menjadi wadah bersama untuk mendata kelompok rebana di kabupaten/kota. Ke depan, kami ingin ada kegiatan lanjutan, termasuk kemungkinan penampilan secara kolosal sehingga kelompok-kelompok hadroh memiliki ruang untuk meningkatkan jam terbang dan kepercayaan diri,” ucap Ujang.
Menurutnya, pembentukan forum tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi antarkelompok hadroh sekaligus mendorong lahirnya kegiatan seni budaya Islam yang berkelanjutan di DIY. Dalam kegiatan tersebut, Edy Purwanto hadir sebagai narasumber dengan materi “Rebana dalam Islam dan Akulturasi Budaya Sunan Kalijaga”. Materi membahas posisi rebana dalam tradisi Islam, perkembangan hadroh di Nusantara, serta peran akulturasi budaya dalam penyebaran nilai-nilai Islam.
Ketua Tim Sumber Daya Manusia Kemenag DIY ini menjelaskan bahwa seni hadroh memiliki nilai spiritual yang kuat. Istilah dan praktik hadroh tidak semata-mata berkaitan dengan alat musik, tetapi juga mengandung pesan agar hati dan jiwa senantiasa hadir dalam mengingat dan mengagungkan Allah SWT serta Rasulullah SAW.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara nilai keislaman dan perkembangan seni. Hadroh dapat dikembangkan dengan berbagai bentuk kreativitas dan kolaborasi dengan budaya lokal selama pesan, etika, dan nilai-nilai Islam tetap menjadi pijakan utama.
“Yang paling penting dalam seni Islam adalah pesan yang disampaikan. Seni harus mampu menjadi sarana untuk menyampaikan nilai spiritual, memperkuat persaudaraan, sekaligus menjaga warisan budaya Islam,” ujar Edy.
Kegiatan sarasehan kemudian dilanjutkan dengan penampilan grup hadroh dari sejumlah kabupaten/kota se-DIY serta Kanwil Kemenag DIY. Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan ruang ekspresi sekaligus meningkatkan pengalaman dan kepercayaan diri para pelaku seni hadroh. (Ajeng)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....