Sampah Organik Jadi Tantangan PSEL Hasilkan Listrik

  • 30 Apr 2026 22:42 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup terus mendorong pembangunan Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai strategi nasional dalam mengatasi persoalan sampah. Dengan pendekatan aglomerasi, percepatan pembangunan PSEL dilakukan di berbagai daerah untuk menjamin ketersediaan pasokan sekaligus keberlanjutan operasional fasilitas.

Namun demikian, penerapan teknologi ini di Indonesia masih menghadapi kendala besar, terutama karena karakter sampah domestik yang didominasi oleh limbah organik basah. Guru Besar Departemen Teknik Kimia FT UGM, Prof. Wiratni, menjelaskan bahwa teknologi insinerasi yang digunakan dalam PSEL sangat bergantung pada kondisi sampah yang kering.

Ia menuturkan, tingginya kadar air dalam sampah dapat menghambat proses pembakaran, sehingga berdampak pada menurunnya efisiensi energi yang dihasilkan.

“Teknologi PSEL akan berfungsi secara optimal pada kondisi sampah dengan kadar air rendah. Keberadaan air akan mengurangi efisiensi utilisasi panas sehingga jumlah energi listrik per ton sampah akan berkurang,” ucapnya.

Wiratni menambahkan, apabila sampah yang masuk ke fasilitas PSEL tidak melalui proses pemilahan dan masih didominasi sampah organik, maka perlu dilakukan proses pengeringan terlebih dahulu, baik secara mekanis maupun termal. Hal ini tidak hanya menambah kompleksitas teknis, tetapi juga meningkatkan biaya investasi dan operasional.

“Jika sampah yang masuk PSEL masih merupakan sampah tidak terpilah dan didominasi oleh sampah organik, maka diperlukan pengeringan terlebih dahulu. Hal ini tentu akan menambah biaya investasi alat, dan biaya operasional, serta membutuhkan lebih banyak kebutuhan energi,” ujarnya.

Menanggapi kekhawatiran terkait potensi kekurangan bahan bakar jika masyarakat mulai mengurangi sampah, Wiratni menjelaskan bahwa kebutuhan sampah dalam jumlah besar selama ini disebabkan oleh kondisi sampah yang masih basah.

“Karena sampah masih memiliki kandungan air cukup tinggi, maka diperlukan jumlah sampah yang besar untuk menghasilkan setiap kWh listrik. Sebetulnya kalau sampah terpilah dengan baik sehingga merupakan sampah kering, maka untuk menghasilkan 1 kWh cukup dengan jumlah sampah yang lebih sedikit karena efisiensi panasnya lebih baik,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menyarankan optimalisasi pengolahan sampah berbasis komunitas, seperti Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), sebagai lini awal pemilahan. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau maggot, sementara sampah anorganik dimanfaatkan sebagai bahan bakar berkualitas untuk PSEL.

“Sampah organik di TPS3R bisa diolah menjadi kompos atau maggot yang laku dijual dan tidak terlalu sulit dilakukan pada skala kecil. Komponen anorganiknya dikirim ke PSEL sebagai bahan bakar dengan kualitas tinggi dari sisi nilai kalor pembakarannya,” ucapnya.

Ia juga menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat agar teknologi yang dibangun dapat berjalan berkelanjutan.

“Kalau hanya membangun PSEL saja, tanpa merancang sense of belonging, maka teknologi apa pun tidak akan bertahan lama. Jadi idealnya, paralel dengan pembangunan PSEL, dilakukan juga pemetaan sosial di area yang akan dilayani PSEL, untuk mengoptimalkan keterlibatan aktif komunitas melalui TPS3R, bank sampah, dan lain-lain sebagai pendukung operasional PSEL,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....