DIY Wajibkan Pendidikan Khas Kejogjaan, Stevanus Sebut Investasi Jangka Panjang
- 25 Feb 2026 09:52 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menetapkan langkah strategis bagi masa depan generasi muda, yang dimulai pada tahun ajaran 2026/2027, seluruh satuan pendidikan di wilayah DIY wajib menerapkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) secara menyeluruh. Kebijakan ini merupakan arahan langsung dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang bertujuan untuk menginternalisasi nilai-nilai filosofis Jawa dan karakter lokal ke dalam sistem pendidikan formal.
Langkah transformatif ini mendapat dukungan penuh dari kalangan legislatif. Anggota DPRD DIY dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dr. Raden Stevanus Christian Handoko, S.Kom., M.M., menegaskan bahwa implementasi PKJ bukan sekadar penambahan kurikulum muatan lokal biasa, melainkan instrumen pertahanan budaya yang krusial.
"Kami di legislatif mendukung penuh komitmen Pemda DIY. Pendidikan Khas Kejogjaan ini adalah benteng bagi generasi muda kita di tengah gempuran globalisasi. Kita ingin siswa kita punya 'global mindset' tapi tetap memiliki 'local wisdom' yang kuat," katanya, Rabu, 25 Februari 2026.
Stevanus menekankan, kurikulum ini dirancang sebagai panduan masa depan, bukan sekadar upaya romantisme sejarah. Target utamanya adalah keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan emosional.
"Ini bukan soal romantisme masa lalu, tapi soal bagaimana mencetak SDM yang unggul secara intelektual namun tetap membumi dengan etika dan tata krama khas Jogja," ucapnya.
Dr. Raden Stevanus secara khusus menyoroti bahwa kualitas lulusan dari sekolah-sekolah di Yogyakarta tidak boleh hanya diukur dari angka di atas kertas. Menurutnya, pendidikan karakter khas Kejogjaan menjadi kunci untuk melahirkan manusia yang utuh.
"Kita tidak hanya menginginkan lulusan Jogja yang pandai secara akademik. Lebih dari itu, kita berharap mereka memiliki karakter kuat yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, etika, dan nilai luhur budaya Jogja. Kecerdasan tanpa etika akan kehilangan arah, itulah mengapa PKJ menjadi sangat penting," ujarnya.
Lebih lanjut, Stevanus mendorong, agar PKJ tidak berhenti sebagai teori di dalam kelas, melainkan menjadi "napas" dalam setiap aktivitas di lingkungan sekolah. Nilai-nilai seperti Hamemayu Hayuning Bawana (memperindah keindahan dunia) harus menjadi fondasi moral yang nyata bagi siswa sejak dini, Ia menilai keunggulan kognitif harus berjalan beriringan dengan integritas perilaku.
"Fokus utama PKJ adalah penanaman nilai karakter, etik, budaya, dan moral. Lulusan sekolah di DIY harus memiliki 'unggah-ungguh' yang membedakan mereka di kancah nasional maupun internasional sebagai pribadi yang beradab," katanya, menjelaskan.
Menghadapi tantangan zaman, Dr. Raden Stevanus mengingatkan pentingnya kreativitas para pendidik. Guru dituntut mampu mengemas nilai-nilai luhur tersebut agar relevan dengan gaya hidup Gen Z dan generasi mendatang.
"PKJ perlu digelorakan secara kreatif agar relevan dengan anak muda zaman sekarang. Jangan sampai nilai-nilai luhur ini disampaikan dengan cara yang kaku atau membosankan bagi mereka. Pendekatannya harus segar namun tetap substantif," ucapnya, menambahkan.
kebijakan Pendidikan Khas Kejogjaan ini dipandang sebagai investasi sosial yang dampaknya akan dirasakan dalam jangka panjang, terutama dalam mencetak calon pemimpin bangsa. Dengan karakter yang kuat dan prinsip kemanusiaan yang tinggi, generasi masa depan Yogyakarta akan menjadi pemimpin yang berintegritas dan tidak kehilangan jati dirinya sebagai 'Wong Jogja' di mana pun mereka berada.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....