Tradisi Nyadran Membawa Berkah Penjual Bunga Tabur
- 14 Feb 2026 16:43 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Bantul - Menjelang datangnya bulan Ramadan, warga masyarakat di wilayah Imogiri, Kabupaten Bantul, mulai melaksanakan tradisi nyadran. Tradisi yang dilakukan sekitar sepekan sebelum bulan puasa ini diisi dengan kegiatan membersihkan makam leluhur, doa bersama, serta tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang telah meninggal dunia.
Tradisi tahunan tersebut turut membawa berkah bagi para pedagang bunga tabur. Salah satunya adalah Bu Soleh, penjual bunga tabur di Pasar Jejeran, Imogiri, Bantul. Ia mengaku penjualannya mulai meningkat sejak tanggal 15 Ruwah dalam kalender Jawa atau bulan Sya’ban dalam kalender Islam.
“Sejak tanggal 15 Ruwah sudah mulai ramai. Alhamdulillah keuntungan tertinggi bisa mencapai Rp300 ribu per hari,” ujar Bu Sholeh kepada RRI Sabtu 14 Februari 2026.
Bunga tabur yang dijual terdiri dari campuran bunga mawar, melati, dan kenanga. Harga per bungkus dibanderol mulai dari Rp5.000 hingga Rp15.000. Sementara untuk satu keranjang kecil lengkap dengan perlengkapan lainnya dijual seharga Rp50.000.
Untuk memenuhi kebutuhan dagangannya, Bu Soleh setiap hari kulakan bunga dari Pasar Beringharjo sejak pukul 05.00 pagi, kemudian menjualnya kembali di Pasar Jejeran Imogiri.
Seperti hari ini Sabtu, 14 Februari 2026 walau menjadi hari-hari terakhir masyarakat melaksanakan nyadran sebelum memasuki bulan Ramadan masih terlihat beberapa pengunjung yang berdoa atau ziarah di makam keluarganya.
Sutilah, salah satu warga, mengaku datang bersama keluarga ke makam Karang Anom Imogiri untuk mendoakan arwah para leluhur.
“Kami akan ziarah mendoakan leluhur sehingga kami sempatkan ke Pasar Jejeran ini untuk beli kembang tabur sebagai tanda sudah berkunjung ke makam keluarga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan keluarga Dariono yang akan melaksanakan nyadran di makam Krapyak, Bantul. Menurutnya, minggu ini merupakan kesempatan terakhir sebelum Ramadan untuk berziarah ke makam ayah dan ibunya.
“Setiap tahun sebelum puasa kami selalu nyadran. Setelah doa, kami menabur bunga mawar dan melati sebagai tanda sudah berkunjung,” katanya.
Sementara itu, salah satu penjaga makam Krapyak, Sukinem, menyebutkan, rangkaian nyadran sebenarnya sudah berlangsung sejak pekan lalu. Kegiatan diawali dengan kerja bakti membersihkan makam, dilanjutkan doa bersama dan makan bersama warga.
“Setiap tahun ada doa bersama. Sebelum itu biasanya bersih-bersih makam dulu,” ucapnya.
Tradisi ini juga menjadi sumber penghasilan tambahan bagi para penjaga makam. Sukinem mengaku setiap musim nyadran dirinya menerima sedekah atau upah jasa membersihkan makam yang nominalnya cukup lumayan.
“Kalau ramai bisa dapat Rp200 ribu sampai Rp300 ribu per hari,” ujarnya.
Tradisi nyadran yang terus dilestarikan masyarakat ini tak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian warga menjelang bulan suci Ramadan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....