Mubeng Beteng, Refleksi Diri Menyambut Tahun Baru Jawa
- 17 Jun 2026 13:42 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Tepat saat pergantian hari dan dentang lonceng Kamandungan Lor berbunyi 12 kali, ribuan orang mulai melangkah perlahan mengitari Benteng Keraton Yogyakarta. Dalam suasana hening yang penuh kekhusyukan, masyarakat dari berbagai latar belakang mengikuti Lampah Budaya Mubeng Beteng, sebuah tradisi tahunan yang menjadi bagian dari peringatan Tahun Baru Jawa Be 1960 sekaligus sarana perenungan dan doa bersama.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa-Rabu, 16-17 Juni 2026 ini merupakan rangkaian Mangayubagya Warsa Enggal Be 1960. Tradisi tersebut digelar sebagai Hajad Kawula Dalem yang diinisiasi Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta bersama masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap Keraton Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan.
Sebelum prosesi berjalan dimulai, suasana reflektif dibangun melalui lantunan macapat di Bangsal Pancaniti sejak pukul 21.00 WIB. Kidung-kidung Jawa yang dibawakan mengandung doa dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik pada tahun yang baru.
Ketua Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, mengatakan Lampah Budaya Mubeng Beteng lahir dari semangat bersama untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya Jawa. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wadah untuk menyatukan rasa, melakukan introspeksi, dan menyambut tahun baru dengan hati yang lebih bersih.
"Agenda ini merupakan inisiatif dari abdi dalem dan masyarakat untuk nyengkuyung Keraton sebagai pusat kebudayaan. Melalui Lampah Budaya Mubeng Beteng, kami bersama-sama menjalani refleksi, memanjatkan doa, dan berharap tahun yang baru membawa kebaikan bagi seluruh masyarakat," ujarnya, Selasa, 16 Juni 2026 malam.
Dengan izin Sri Sultan Hamengku Buwono X melalui Kawedanan Hageng Panitrapura, peserta memulai perjalanan dari Kagungan Dalem Kamandungan Lor (Keben) sesaat setelah lonceng pergantian tahun dibunyikan. Ribuan peserta kemudian menempuh rute sepanjang kurang lebih lima kilometer mengelilingi benteng Keraton melalui sejumlah ruas jalan utama hingga kembali ke titik keberangkatan.
KRT Wijayapamungkas dari Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta menyebut minat masyarakat untuk mengikuti tradisi ini terus meningkat. Selain para abdi dalem, peserta juga berasal dari masyarakat umum yang ingin merasakan pengalaman menjalani tapa bisu yang sarat makna spiritual.
"Peserta terdiri dari abdi dalem dan masyarakat umum. Tahun lalu jumlahnya lebih dari 10 ribu orang, dan tahun ini antusiasmenya juga sangat tinggi. Ini menunjukkan tradisi Mubeng Beteng masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Yogyakarta," katanya.
Pelestarian tradisi ini juga mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan DIY. Plt. Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriadi, menjelaskan bahwa Lampah Budaya Mubeng Beteng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2015.
"Tradisi ini mengandung nilai introspeksi, kesederhanaan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Karena itu, pelestariannya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau Keraton, tetapi juga seluruh masyarakat," ujar Rully.
Menurutnya, Mubeng Beteng merupakan warisan budaya adiluhung yang mengajarkan pengendalian diri, penataan batin, dan penguatan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Melalui tapa bisu, peserta diajak sejenak meninggalkan hiruk-pikuk kehidupan untuk merenung dan memanjatkan harapan akan keselamatan serta keberkahan di masa mendatang.
Makna tersebut dirasakan langsung oleh Amalia Nurul, warga Yogyakarta yang telah dua kali mengikuti tradisi ini. Ia menilai Mubeng Beteng tidak hanya menjadi upaya melestarikan budaya, tetapi juga media refleksi yang relevan bagi generasi muda.
"Menurut saya ini semacam healing versi budaya Jawa. Kita berjalan dalam diam, menenangkan pikiran, mengurangi beban dan hal-hal yang sering membuat overthinking. Setelah mengikuti tapa bisu, rasanya lebih ringan dan lebih siap menghadapi perjalanan hidup ke depan," ucapnya.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Lampah Budaya Mubeng Beteng tetap menghadirkan pesan yang relevan. Tradisi ini mengingatkan bahwa pergantian tahun bukan sekadar pergantian waktu, melainkan kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan hidup, memperbaiki diri, dan menata langkah menuju masa depan yang lebih baik. Dari Yogyakarta, tradisi ini terus hidup sebagai jembatan yang menghubungkan manusia dengan budaya, spiritualitas, dan nilai-nilai luhur warisan leluhur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....