Obor Tani Sukses Dampingi Petani Durian Nglanggeran
- 08 Feb 2026 15:59 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Gunungkidul - Program penanaman durian di kawasan Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul, terus menunjukkan perkembangan meski dihadapkan pada tantangan cuaca dan penyakit tanaman. Program yang telah berlangsung sejak tahun 2013 ini dengan penanaman 2.500 batang durian serta 300 batang kelengkeng di lahan seluas sekitar 20 hektare, ini melibatkan kurang lebih 100 petani setempat.
Diungkapkan Koordinator dan Manajer Kebun Obor Tani Semarang, Hendrik, bahwa setiap petani dalam program tersebut rata-rata mendapatkan 20 hingga 25 batang pohon durian untuk dirawat. Obor Tani sebagai mitra yang ditunjuk Pertamina berperan aktif dalam melakukan pendampingan menyeluruh kepada para petani di kawasan Embung Nglanggeran.

“Pendampingan tidak hanya pada aspek perawatan tanaman, tetapi juga pendampingan harian, kelembagaan, hingga pemasaran jika petani mengalami kesulitan menjual hasil panen,” ujar Hendrik Sabtu 7 Februari 2026. Ia menambahkan, tim Obor Tani bahkan tinggal di desa agar proses penyuluhan dan pendampingan dapat berjalan secara optimal.
| Baca juga: Cara Budidaya Keliru, Kopi Rentan Cacat |
Namun demikian, Hendrik menyebutkan bahwa untuk wilayah Nglanggeran, pemasaran hasil panen relatif tidak menjadi kendala. Hal ini karena Nglanggeran merupakan kawasan wisata, sehingga sekitar 70 persen hasil panen durian dapat terserap langsung di wilayah tersebut.
Terkait produksi, Hendrik mengungkapkan bahwa kondisi cuaca di akhir tahun 2025 sangat berpengaruh terhadap produktivitas durian. Curah hujan yang terjadi hampir sepanjang bulan menyebabkan terganggunya fase pembungaan.

“Durian membutuhkan sinar matahari yang cukup selama kurang lebih dua bulan untuk menghasilkan bunga yang baik. Namun di akhir tahun 2025, wilayah DIY mengalami kemarau basah, sehingga siklus pembungaan menjadi tidak normal dan produksi buah menurun,” ujarnya.
Program penanaman durian ini sendiri telah dimulai sejak tahun 2013, dengan panen perdana pada 2017. Puncak panen terbesar tercatat pada tahun 2020 hingga 2021, yang bertepatan dengan masa pandemi Covid-19.
Selain faktor cuaca, beberapa pohon durian dalam beberapa minggu terakhir juga dilaporkan terserang jamur Phytophthora yang menyerang batang utama tanaman. Penanganan penyakit ini membutuhkan pestisida dengan harga yang relatif mahal, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi petani.
Ditambahkan Hendrik untuk mengatasi hal tersebut, ke depannya pihaknya akan mendorong penerapan manajemen hasil panen yang lebih berkelanjutan. Salah satunya dengan menyisihkan sekitar 30 persen hasil panen untuk kebutuhan pemupukan, pengadaan obat, serta perawatan dan penanaman kembali.
“Tanaman tahunan seperti durian tidak bisa dikelola secara konvensional. Harus ada komitmen menyisihkan hasil panen untuk perawatan agar keberlanjutan kebun tetap terjaga,” kata Hendrik.

Sementara diungkapkan salah satu petani durian di kawasan Wisata embung Nglanggeran Maryani untuk pupuk dan obat harganya memang mahal, bahkan untuk menghasilkan buah durian yang manis dan enak bukan hanya bibitnya yang bagus namun rajin dipupuk dan perawatan ekstra juga berpengaruh.
"Pohon durian ini memang merupakan program bantuan tapi kami juga harus memupuk dan merawatnya dengan baik, apalagi durian bawor dan Montong perlu ekstra pemupukan,"ujarnya.
Sementara untuk penjualan diungkapkan Maryani, masih bersyukur karena tidak alami kesulitan dalam penjualan, dengan seringnya wisatawan yang datang ke Embung Nglanggeran ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....