Joglo Singodikoro, Jejak Sejarah Sekaligus Pelestari Budaya Jawa

  • 01 Feb 2026 05:10 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Joglo Singodikoro di wilayah Margorejo, Sleman, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah panjang Jawa sejak akhir abad ke-18. Bangunan berarsitektur joglo ini berdiri sekitar tahun 1790-an dan hingga kini masih difungsikan sebagai pusat kegiatan budaya oleh pemiliknya, Raden Chaerul Wardana, SE.

Pemilik Joglo Singodikoro Raden Chaerul Wardana, menuturkan bahwa nama yang digunakannya merupakan nama tua yang diwariskan secara turun-temurun. 

“Nama saya R. Chaerul Wardana, SE, tetapi saya menggunakan nama Kiai Singodikoro yang ke-8, sesuai garis trah keluarga,” ujarnya.

Bangunan joglo tersebut didirikan oleh leluhur keluarganya, Raden Mas Puspo Widjojo, yang menjabat sebagai demang dengan gelar Kiai Singodikoro pertama. Sejak awal berdiri hingga tahun 1948, joglo itu digunakan sebagai kantor kelurahan secara turun-temurun. 

“Rumah ini dulu pusat pemerintahan kelurahan selama ratusan tahun,” katanya.

Dalam catatan sejarah keluarga, Joglo Singodikoro juga memiliki peran penting pada masa Perang Diponegoro tahun 1826. Tempat ini digunakan sebagai lokasi pertemuan dan perlindungan bagi para pejuang. 

Salah satu leluhur Wardana, Raden Temenggung Singoyudo, tercatat sebagai salah satu senopati perang Diponegoro di wilayah sekitar.

Peristiwa penting lain terjadi pada tahun 1883, ketika Gusti Timur Muhammad Suryaningalogo bersama ibunya, Gusti Ratu Sekar Kedaton, sempat bersembunyi di Joglo Singodikoro saat dikejar tentara Belanda. 

“Selama mereka tinggal di sini, tidak ada satu pun tentara Belanda yang berhasil masuk,” ucapnya.

Peristiwa sejarah lainnya, bangunan ini pada periode 1945–1948  digunakan sebagai lokasi kegiatan militer/ latihan tentara Jepang (Keibodan). Seusai kemerdekaan, joglo tersebut sempat digunakan juga sebagai tempat sekolah SMEP yang kini dikenal sebagai Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Tempel.

Pada Januari 2017, Joglo Singodikoro resmi ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Sejak saat itu, Wardana mendirikan komunitas pelestari budaya dan menghidupkan berbagai kegiatan tradisi Jawa, mulai dari tirakat rutin, latihan karawitan, hingga pelestarian dolanan anak. 

“Semua kegiatan budaya kami lakukan terbuka dan gratis untuk masyarakat,” katanya.

Joglo Singodikoro juga rutin menggelar kegiatan budaya bulanan serta ritual adat seperti doa minta hujan. Menurut Wardana, antusiasme masyarakat sangat tinggi, bahkan banyak peserta yang datang dari luar daerah. 

“Yang warga sekitar justru hanya sedikit, sebagian besar tamu dari luar,” ujarnya.

Meski menyandang status cagar budaya, perawatan bangunan sebagian besar dilakukan secara mandiri. Beberapa bagian joglo yang rusak terpaksa diganti seadanya karena keterbatasan biaya. 

“Semua biaya perawatan saya tanggung sendiri, meski tetap dalam pengawasan dinas,” katanya.

Dengan luas lahan sekitar 5.000 meter persegi, Joglo Singodikoro kini dikenal sebagai salah satu rumah tertua di Kabupaten Sleman. Wardana berharap bangunan ini dapat terus bertahan dan berkembang sebagai pusat kebudayaan Jawa. 

“Harapan saya sederhana, joglo ini tetap lestari dan menjadi ruang hidup bagi budaya Jawa,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....