Stasiun Geofisika Sleman Perkuat Literasi Gempa Lewat Edukasi dan Teknologi
- 28 Mei 2026 13:05 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Dua dasawarsa pasca gempa besar 27 Mei 2006, upaya membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana terus diperkuat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu garda terdepan dalam meningkatkan pemahaman publik terhadap risiko gempa bumi adalah Stasiun Geofisika Sleman melalui berbagai program edukasi dan inovasi literasi kebencanaan.
Ketua Tim Pengembangan dan Inovasi MKG Stasiun Geofisika Sleman, Dr. Nugroho Budi Wibowo, S.Si., M.Si., dalam dialog Jogja Menyapa RRI, Kamis 28 Mei 2026 mengatakan pihaknya terus berupaya mendekatkan informasi kebencanaan kepada masyarakat secara sederhana dan mudah diakses. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi berbasis QR code atau barcode yang dapat membantu masyarakat mengenali potensi risiko gempa di wilayah tempat tinggalnya.
“Barcode itu adalah salah satu cara kami untuk memberikan edukasi, meningkatkan literasi masyarakat agar masyarakat lebih memahami bahwasanya kita itu tinggal di daerah istimewa Yogyakarta yang memang istimewa karena memang dilintasi oleh satu jelar eh satu jalur sesar yaitu sesar Opak gitu,” ujarnya.
Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat mengetahui posisi mereka terhadap jalur sesar aktif di DIY. Tidak hanya Sesar Opak, aplikasi itu juga memuat informasi mengenai sesar-sesar baru yang dirilis Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) pada 2024, seperti Sesar Mataram Segmen Tambakbayan dan Segmen Dengkeng.
“Dari aplikasi itu masyarakat bisa lakukan scan kemudian nanti bisa melihat posisi saat ini kita berjarak berapa kilometer dari sesar terdekat,” katanya.
Menurut Budi, pemahaman mengenai posisi geografis terhadap sumber gempa penting untuk membangun kesadaran risiko sejak dini. Dengan memahami ancaman yang ada di lingkungan sekitar, masyarakat diharapkan lebih siap dalam melakukan mitigasi kebencanaan.

Selain pemanfaatan teknologi, Stasiun Geofisika Sleman juga aktif mengembangkan edukasi kebencanaan lintas jenjang pendidikan melalui program BMKG Goes to School. Program ini menyasar peserta mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.
“Kami mencoba untuk berpartisipasi dengan mengedukasi masyarakat dari tingkat PAUD, TK hingga perguruan tinggi,” kata Budi.
Melalui program tersebut, pelajar dan mahasiswa diajak mengenal sistem pemantauan gempa bumi, sejarah kegempaan di Yogyakarta, hingga langkah mitigasi yang perlu dilakukan saat terjadi gempa di lingkungan sekolah. Tidak hanya menerima kunjungan ke kantor, Stasiun Geofisika Sleman juga membuka kesempatan bagi sekolah yang ingin mengadakan simulasi kebencanaan secara langsung.
“Selain itu kami juga menerima undangan ketika ada pihak sekolah membutuhkan simulasi gempa bumi di sekolahnya kami siap untuk membantu mengedukasi,” ujarnya.
Sementara bagi masyarakat umum, edukasi dilakukan melalui program Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG). Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memahami ancaman gempa sekaligus membangun kesiapsiagaan berbasis komunitas.
Tidak berhenti di situ, penguatan literasi kebencanaan juga diwujudkan melalui penerbitan berbagai buku edukatif. Salah satunya buku Jejak Sesar Opak, yang baru diluncurkan sebagai bentuk pengingat sejarah sekaligus pembelajaran bagi masyarakat Yogyakarta.
“Kami baru me-launching buku Jejak Sasar Opak. Harapannya ini sebagai kontribusi kami ke masyarakat Jogja sehingga masyarakat Jogja itu tidak akan pernah lupa dengan sejarah bahwasanya pernah terjadi gempa besar dan signifikan pada 27 Mei 2006,” ucapnya.
Beragam materi literasi kebencanaan tersebut kini juga dapat diakses masyarakat secara digital melalui QR code yang disediakan Stasiun Geofisika Sleman. Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat membuka rak buku digital berisi informasi seputar gempa bumi dan mitigasi bencana.
Di tengah ancaman gempa yang tidak dapat diprediksi, peningkatan literasi kebencanaan dinilai menjadi investasi penting dalam membangun masyarakat yang tangguh, waspada, dan berdaya. Upaya ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak hanya dibangun saat bencana datang, tetapi melalui pemahaman yang terus ditanamkan dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....