Merasakan Nuansa Puasa di Negeri Piramida Mesir

  • 07 Mar 2026 23:32 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Bagi mahasiswa perantauan, menjalani Ramadan jauh dari Tanah Air selalu memberikan kesan yang mendalam. Hal inilah yang dirasakan oleh Aliyah Adiba Zainuri, alumni Madrasah Aliyah Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, yang kini tengah menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Kairo.

Melalui korespondensinya, Aliyah membagikan potret hangat bagaimana tradisi, spiritualitas, dan keramahtamahan penduduk Mesir menyatu dalam ritme bulan suci Ramadan.

Memasuki bulan Ramadan, suasana Kota Kairo bertransformasi. Jalanan dihiasi dengan Fanus, lentera warna-warni khas Mesir yang telah menjadi ikon Ramadan selama berabad-abad sebagai lambang cahaya harapan dan kegembiraan.

Aktivitas keagamaan pun meningkat pesat. Masjid Al-Azhar menjadi pusat gravitasi spiritual, baik bagi warga lokal maupun pelajar internasional.

"Di sini, lantunan Al-Quran, kajian keislaman, dan diskusi ilmiah menciptakan atmosfer reflektif yang mendalam," ujarnya..

Atas arahan Grand Syekh Ahmad Thayyar, Masjid Al-Azhar tahun ini menyelenggarakan salat tarawih 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir dengan menggunakan Qiraah Asyrah.

Salah satu fenomena yang paling mengesankan di Mesir adalah semangat berbagi. Di setiap sudut jalan, warga lokal dengan sukacita membagikan hidangan berbuka puasa kepada siapa pun yang lewat.

Tahun ini, lembaga zakat Baituz Zakat berkolaborasi dengan Al-Azhar untuk menyiapkan 10.000 hidangan buka puasa setiap harinya bagi pelajar asing. Tradisi ini menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi, di mana berbagi satu botol air mineral pun dianggap sebagai bentuk kebahagiaan bersama.

Bagi komunitas mahasiswa Asia Tenggara, atau yang akrab disapa Masishir (mahasiswa Indonesia-Mesir), Ramadan juga menjadi momen pengobat rindu. Meski jauh dari keluarga, mereka tetap bisa mencicipi kuliner khas nusantara melalui lapak-lapak makanan yang dibuka oleh sesama mahasiswa.

Selain kuliner, kegiatan intelektual tetap berjalan. PCINU Mesir, misalnya, mengadakan berbagai kajian dan Daurah menggunakan kitab-kitab di bidang ilmu Fikih dan Tasawuf. Kegiatan ini bertujuan agar para mahasiswa tidak hanya merasakan lapar dan dahaga, tetapi juga memiliki bekal ilmu untuk menghadapi tantangan zaman.

Bagi Aliyah, Ramadan di Kairo bukan sekadar pengalaman akademis, melainkan perjalanan batin untuk memperkuat ukhuwah sesama muslim. Ia berharap ilmu yang didapat di 'Negeri Kinanah' ini dapat bermanfaat saat kembali ke Tanah Air nanti, khususnya bagi organisasi Fatayat dan Muslimat Nahdlatul Ulama di mana keluarganya bernaung.

"Ramadan di Kairo adalah kenangan yang sulit dilupakan. Ia mengingatkan kita untuk terus beribadah, karena belum tentu kita akan bertemu kembali dengan Ramadan tahun depan," katanya. (Kontributor Muslimat NU: Aliya Adiba Zainuri, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Al – Azhar, Mesir)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....