Menjadi Minoritas tak Menyurutkan Semangat Ibadah Ramadan Umat Muslim di New York
- 26 Feb 2026 10:49 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Menjalankan ibadah puasa di negeri orang, jauh dari keluarga dan tanah air, memberikan kesan mendalam bagi Adib Zaidani Abdurrohman, SE, M.DT. Kepala Bagian Kontribusi dan Keanggotaan pada Organisasi Internasional ini membagikan kisahnya dalam menghadapi tantangan sekaligus menemukan keindahan toleransi selama bulan suci Ramadan di Kota yang Tidak Pernah Tidur
Bagi Adib, Ramadan di Amerika Serikat memiliki dinamika tersendiri dibandingkan di Indonesia. Salah satu tantangan utama adalah durasi puasa yang bisa lebih panjang tergantung musim, serta lingkungan yang mayoritas tetap beraktivitas normal tanpa ada penyesuaian jam kerja atau suasana khas Ramadan seperti di tanah air.
“Di sini, kita harus benar-benar mandiri dalam menjaga ritme ibadah di tengah kesibukan yang tidak berubah,” ucapnya.
Meskipun menjadi minoritas, komunitas Muslim di New York sangatlah solid. Adib menceritakan bagaimana masjid-masjid di New York, seperti yang ada di kawasan Queens atau Manhattan, menjadi titik temu bagi umat Islam dari berbagai latar belakang etnis.
Kegiatan buka puasa bersama (ifthar) di masjid menjadi momen yang paling dinanti. Momen tersebut bukan sekadar makan bersama, tapi juga menjadi wadah silaturahmi bagi para perantau untuk saling menguatkan," katanya. Menu yang disajikan pun beragam, mulai dari hidangan khas Timur Tengah hingga masakan Asia Selatan, mencerminkan keberagaman populasi Muslim di sana.
Satu hal yang menarik perhatian Adib adalah tingkat toleransi masyarakat New York yang tinggi. Ia menceritakan bagaimana rekan-rekannya yang non-Muslim menunjukkan rasa hormat saat ia berpuasa. Keberagaman budaya yang menjadi jati diri New York membuat praktik agama yang berbeda-beda menjadi hal yang biasa dan dihormati.
Melalui pengalamannya, Adib menekankan bahwa esensi Ramadan tetap sama di mana pun kita berada. Kesabaran, pengendalian diri, dan peningkatan spiritualitas tetap menjadi fokus utama, meskipun tantangan fisik dan suasana jauh berbeda dari kampung halaman.
Kisah Adib ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di belahan dunia mana pun, semangat Ramadan selalu mampu menyatukan hati umat manusia melalui kebaikan dan kebersamaan.
(Kontributor Muslimat NU DIY: Adib Zaidani Abdurrohman, S.E, M.DT, Kepala Bagian Kontribusi dan Keanggotaan pada Organisasi Internasional).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....