Suasana Ramadan di Mesir: Tradisi & Kehangatan
- 26 Feb 2026 10:58 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Kairo – Suasana Ramadan di tanah perantauan sering kali menghadirkan kerinduan mendalam bagi para ekspatriat. Namun, bagi Jamal, seorang warga negara Indonesia yang telah menetap selama tiga tahun di wilayah Hay Ashir, Kairo, atmosfer Ramadan di Mesir justru memberikan kehangatan yang tak jauh berbeda dengan kampung halaman.
Meski berada ribuan kilometer dari Indonesia, Jamal mengungkapkan bahwa semangat dan kemeriahan bulan suci di Mesir sangat terasa melalui berbagai tradisi lokal yang kental dengan nilai berbagi dan religiusitas.
Salah satu fenomena yang paling menonjol di Mesir adalah Ma’idatur Rahman, sebuah tradisi penyediaan hidangan buka puasa gratis secara masal bagi siapa saja yang membutuhkan. Tradisi ini seolah menjadi bukti kedermawanan masyarakat lokal selama bulan suci.
Selain aspek sosial, kehidupan spiritual di Kairo juga sangat aktif. "Suasana Ramadan di sini kurang lebih hampir sama dengan di Indonesia. Sangat hidup dan semarak, mulai dari salat Tarawih berjamaah di masjid hingga berbagai kajian kitab yang digelar sepanjang bulan," ujar Jamal dalam kisahnya.
Ada yang berbeda pada perayaan Ramadan tahun ini. Jamal menuturkan bahwa pengumuman Ramadan di Mesir dilakukan secara modern dan spektakuler di atas langit Masjid Al-Azhar.
"Ramadan tahun ini terasa spesial karena diumumkan dengan pertunjukan drone yang menampilkan ucapan bercahaya di langit," jelasnya. Beberapa pesan yang menghiasi langit malam Kairo antara lain:
1.Ramadan Karim
2.Wahawi ya Wahawi (ucapan selamat datang Ramadan).
3.Asmaul Husna Al-Wadud.
Nuansa visual Ramadan di Mesir tidak lengkap tanpa kehadiran Fanus Ramadan, yakni lentera warna-warni dan berbagai pernak-pernik hiasan yang terpasang di setiap sudut kota.
Dari sisi kuliner, Ramadan menjadi waktu bagi munculnya jajanan khas yang menggugah selera. Jamal menyebutkan beberapa kudapan yang populer, seperti:
Zalabiya, Kunafa, dan Sambosa.
Atayef: Semacam pancake isi yang disiram sirup gula, yang menjadi primadona khusus di bulan Ramadan.
Minuman Segar: Karkade (teh rosella) dan Tamar Hindi yang manis.
Menariknya, Mesir juga memiliki tradisi membangunkan orang sahur yang sangat mirip dengan budaya di Indonesia. Jika di Indonesia kita mengenal sebutan 'Sahur-sahur', di Mesir tradisi ini disebut dengan Mesaharati.
Dengan durasi puasa yang hampir sama dengan Indonesia—sekitar 13 jam, mulai pukul 05.00 pagi hingga 18.00 petang—pengalaman menjalani Ramadan di Kairo memberikan kesan mendalam bagi Jamal sebagai perantau yang tetap bisa merasakan kehangatan ibadah di tengah masyarakat yang religius dan inklusif.
(Kontributor Muslimat NU DIY: Jamaluddin Shiddiq, M.Pd, Dosen UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo & Studi Doktoral di Suez Canal University)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....