Meski Dingin Musim Semi, Hangatnya Ramadan Terasa di Polandia
- 07 Mar 2026 13:10 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menjalankan ibadah puasa di negeri yang jauh dari tanah air menghadirkan tantangan sekaligus kesan mendalam bagi para perantau Muslim. Hal ini dirasakan langsung oleh Nizam, seorang alumnus Jagiellonian University di Krakow, Polandia, yang membagikan pengalamannya menjalani Ramadan di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Katolik konservatif.
Berbeda dengan Indonesia yang meriah dengan pernak-pernik dan suasana religius yang kental, Ramadan di Polandia terasa seperti hari-hari biasa tanpa dekorasi atau euforia khusus di ruang publik. Namun, di balik kesunyian tersebut, terdapat dinamika unik yang mempererat ikatan komunitas Muslim di sana.
Ramadan tahun ini jatuh pada masa transisi dari akhir musim dingin menuju awal musim semi. Meski suhu udara masih tergolong dingin, waktu puasa di Krakow ternyata relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia.
"Waktu puasa di sini kurang lebih sekitar 12 jam. Sahur biasanya dilakukan pada pukul 05.00 pagi dan berbuka pada pukul 17.00 sore," ujarnya.
Kondisi cuaca yang sejuk cukup membantu para mahasiswa dan pekerja migran dalam menjalankan aktivitas sehari-hari sembari menahan lapar dan dahaga. Jumlah umat Muslim di kota Krakow tergolong sedikit, yang tercermin dari fasilitas ibadah yang tersedia.
Nizam mencatat hanya ada tiga tempat ibadah di kota tersebut dengan ukuran yang kecil, lebih menyerupai musholla daripada masjid besar yang umum dijumpai di Indonesia. Untuk menghidupkan suasana Ramadan, komunitas Muslim memusatkan kegiatan di Islamic Center Krakow.
| Baca juga: Ramadan di Negeri Paman Sam |
Tempat ini menjadi titik temu bagi umat Muslim dari berbagai latar belakang negara, seperti:
• Timur Tengah & Afrika: Mesir, Aljazair, dan Turki.
• Asia Tengah: Uzbekistan, Afghanistan, dan Pakistan.
• Asia Tenggara: Termasuk komunitas dari Indonesia.
Salah satu tradisi yang paling dinantikan adalah buka puasa bersama secara bergiliran. Setiap komunitas negara mendapatkan jadwal untuk menyediakan hidangan khas mereka masing-masing.
Meja makan di Islamic Center pun berubah menjadi ajang festival kuliner internasional. Para jamaah dapat mencicipi biryani, falafel, hingga kebab dari berbagai negara. Tak ketinggalan, komunitas Indonesia juga kerap memasak menu tradisional nusantara untuk dibagikan kepada jamaah dari negara lain.
"Mencicipi makanan dari berbagai negara setidaknya dapat mengobati rasa rindu akan suasana Ramadan yang dirindukan di tanah air," katanya. Nizam.
Melalui kebersamaan ini, keterbatasan fasilitas dan jauhnya jarak dari keluarga seolah terbayar dengan hangatnya persaudaraan lintas bangsa. (Kontributor Muslimat NU DIY: Nizam Muchammad Zulfikar, Alumni Jagiellonian University, Krakow – Polandia Jurusan Hubungan International)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....