Ramadan di Negeri Paman Sam

  • 23 Feb 2026 12:04 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, AMERIKA SERIKAT – Menjalani bulan suci Ramadan jauh dari kampung halaman selalu menghadirkan perpaduan rasa antara rindu dan syukur. Hal inilah yang dirasakan oleh Khusnul Khotimah, atau yang akrab disapa Imah, seorang istri yang saat ini sedang mendampingi suaminya menempuh studi S3 di Harvard University, Amerika Serikat.

Bagi Imah, suasana Ramadan di luar negeri sangat kontras dengan di Indonesia. Tidak ada suara azan yang berkumandang dari masjid kampung, tidak ada keriuhan pedagang takjil di pinggir jalan, dan kota tetap berjalan normal seperti hari-hari biasa. Namun, di tengah keterbatasan tersebut, ia menemukan makna mendalam tentang menghadirkan Ramadan dari dalam hati.

Meskipun jauh dari keluarga, Imah mengaku sangat bersyukur atas solidaritas komunitas Muslim di Amerika Serikat. Beberapa masjid dan institusi pendidikan tinggi memberikan dukungan nyata bagi umat Muslim.

"Alhamdulillah, selama bulan Ramadan, beberapa masjid di sini menyediakan makanan untuk berbuka. Bahkan di kampus seperti Harvard University, hampir setiap hari disediakan iftar gratis, tidak hanya untuk mahasiswa tetapi juga untuk anggota keluarga," katanya.

Momen buka puasa bersama ini menjadi pengobat rindu, di mana para perantau bisa merasakan hangatnya kebersamaan di tengah lingkungan akademik yang prestisius. Pengalaman spiritual yang unik juga dirasakan saat melaksanakan salat Tarawih berjamaah. Di Harvard, terdapat pembimbing keagamaan yang mendampingi kegiatan spiritual mahasiswa.

Imah menceritakan bagaimana indahnya keberagaman saat salat berjamaah. Di kanan dan kirinya, ia bisa bertemu dengan jemaah dari berbagai negara seperti Turki, Pakistan, Somalia, Arab, hingga mualaf Amerika. "Bacaan imam mungkin memiliki logat yang berbeda-beda, tetapi doa yang dipanjatkan tetap sama," ujarnya.

Berbeda dengan di Indonesia yang sering kali memiliki penyesuaian jam kerja atau sekolah, kehidupan di Amerika tetap berjalan normal. Toko-toko tetap buka dan aktivitas perkuliahan tidak berubah. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri untuk menjaga niat dan konsistensi ibadah.

Memasuki sepuluh malam terakhir, semangat ibadah semakin meningkat dengan adanya kegiatan Qiyamul Lail di berbagai masjid dan kampus. Diaspora Muslim Indonesia di Boston juga rutin mengadakan buka puasa bersama hingga acara halal bihalal setelah Idulfitri.

Dalam acara-acara tersebut, hidangan khas nusantara seperti opor ayam menjadi primadona yang seketika menghadirkan suasana rumah. Suami Imah, yang juga menjabat sebagai Ketua PCI NU Amerika Serikat-Kanada, turut aktif memberikan tausiyah bagi komunitas Indonesia di Boston.

Melalui kisahnya, Imah mengajarkan bahwa rumah bukan sekadar tempat, melainkan nilai-nilai kebersamaan dan iman yang dibawa ke mana pun kaki melangkah. Ramadan di perantauan justru menjadi momentum untuk memperluas rasa syukur dan memperkuat kesabaran.

(Kontributor Muslimat NU DIY: Husnul Khotimah, MA, Diaspora Amerika Serikat)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....