Menelusuri Tradisi Unik Ramadan di Brunei Darussalam
- 22 Feb 2026 13:37 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Brunei Darussalam – Di balik ketenangan geografisnya di pesisir utara Pulau Kalimantan, Brunei Darussalam menyimpan kekayaan tradisi Ramadan yang kental dengan nilai-nilai religius dan kebersamaan. Negara yang menerapkan konsep Melayu Islam Beraja ini menyuguhkan atmosfer Ramadan yang berbeda, menyatukan kedisiplinan aturan dengan kehangatan sosial yang tinggi.
Salah satu tradisi paling khas di Brunei adalah penggunaan meriam sebagai penanda waktu. Jika di Indonesia kita terbiasa dengan suara bedug, di Bandar Seri Begawan, awal Ramadan disambut dengan 12 dentuman meriam. Tradisi yang dilakukan oleh anggota Polis Tentara Angkatan Bersenjata Diraja Brunei ini juga rutin terdengar setiap hari di area Taman dekat Masjid Omar Ali Saifuddien sebagai penanda waktu berbuka puasa atau sungkai.
Pemerintah Brunei menerapkan aturan yang sangat tegas selama bulan suci. Restoran dan warung makan diperbolehkan tetap buka, namun dilarang keras melayani makan di tempat (dine-in). Seluruh hidangan harus dibungkus atau dibawa pulang, sebuah praktik yang dikenal warga lokal dengan istilah tapau.
Aturan ini berlaku untuk semua orang, termasuk warga non-muslim. Bagi yang melanggar, denda sebesar 200 BND (sekitar Rp2,6 juta) siap menanti. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesucian bulan Ramadan dan menghormati mereka yang sedang menjalankan ibadah.
Aktivitas ibadah seperti tadarus Al-Qur'an dan salat tarawih berjamaah di masjid-masjid besar menjadi denyut nadi kehidupan warga. Uniknya, tradisi sedekah takjil di Brunei berlangsung secara organik tanpa jadwal tertulis dari pengurus masjid.
Berbagai kegiatan dilakukan di Brunei Darusssalam di antaranya:
Sungkai Bersama: Di Masjid Omar Ali Saifuddien, jamaah hingga wisatawan non-muslim seringkali berbuka bersama di halaman masjid yang telah dihampari karpet.
Menu Takjil: Berbeda dengan tren camilan ringan di tanah air, takjil di Brunei umumnya berupa makanan berat seperti nasi dan lauk-pauk.
Gerai Ramadan: Bazar makanan yang tertata rapi di lapangan terbuka (bukan di pinggir jalan) menjadi pusat perburuan "cucur" atau aneka gorengan khas Brunei saat sore hari.
Nuansa Ramadan semakin semarak dengan tradisi berbagi dari pihak istana. Sultan Hassanal Bolkiah secara rutin membagikan paket kurma kepada setiap keluarga di Brunei, di mana setiap rumah bisa mendapatkan 5 hingga 10 paket kurma berkualitas.
Di sisi lain, kaum muda Brunei memanfaatkan momen ini untuk mempererat silaturahmi melalui sahur bersama di kedai-kedai makan yang mulai beroperasi sejak pukul 02.00 dini hari. Tradisi ini dipandang sebagai cara efektif untuk mengukuhkan ikatan persaudaraan dan kemasyarakatan di antara warga.
Melalui perpaduan aturan yang disiplin dan semangat berbagi yang tinggi, Ramadan di Brunei Darussalam bukan sekadar menjalankan rukun Islam, melainkan sebuah manifestasi kedamaian di "Negeri Petuah".
(Kontributor Muslimat NU DIY: Tresnasari Sugiharti, S.P, M.Si)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....