Kisah Ramadan 1447 H dari Jantung Kota Makkah

  • 25 Feb 2026 08:22 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Makkah Al-Mukarramah – Gema selawat dan lantunan ayat suci Al-Qur’an memenuhi setiap sudut Masjidil Haram seiring dimulainya ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah. Bagi jutaan umat Muslim yang memadati kota suci, Ramadan di Makkah menawarkan pengalaman spiritual yang tak tertandingi, mengubah ritme hidup menjadi pengabdian penuh kepada Sang Pencipta.

Basyir Wa Nadzir, seorang alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nusa Megarkencana, berbagi kisahnya langsung dari Makkah mengenai suasana ibadah di tanah suci tahun ini.

Penetapan awal Ramadan di Makkah selalu menjadi momen yang dinantikan. Basyir menceritakan bahwa tanda masuknya bulan suci ditandai dengan menyalanya lampu hijau di Tower Jam (Makkah Royal Clock Tower) yang ikonik.

"Alhamdulillah, kemarin menara jam sudah menyala, menandakan kita telah memasuki bulan suci Ramadan," ujarnya. Sejak hari pertama, Masjidil Haram langsung dipadati jemaah yang melakukan berbagai ibadah, mulai dari tadarus Al-Qur'an hingga iktikaf.

Ramadan tahun ini di Makkah dibarengi dengan kondisi cuaca yang cukup menantang, di mana suhu udara mencapai 33°C. Selain suhu udara, durasi puasa di Makkah pun sedikit lebih lama dibandingkan di Indonesia. Jemaah di Makkah berpuasa rata-rata selama 14 jam setiap harinya. Durasi ini lebih lama dari Indonesia yang rata-rata 13 jam, namun tetap lebih singkat dibandingkan negara-negara di belahan bumi utara yang bisa mencapai 17 jam. Meski harus menahan haus dan lapar di bawah terik matahari, semangat para jemaah tidak surut untuk mengejar pahala yang berlipat ganda.

Salah satu fenomena unik yang diceritakan Basyir adalah pergeseran pola aktivitas masyarakat. Di Makkah, malam hari seolah berubah menjadi siang hari yang hidup. Masyarakat banyak yang terjaga hingga waktu sahur, menghabiskan waktu untuk berzikir atau berkumpul bersama keluarga di sekitar Masjidil Haram.

Tradisi buka puasa bersama di dalam masjid juga menjadi momen yang paling mengharukan. Ribuan dermawan menyediakan hidangan gratis berupa kurma, air zamzam, serta makanan khas Arab bagi para jemaah. "Tradisi ini tidak hanya mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menjadi momen berbagi yang penuh berkah," ucapnya.

Bagi Basyir dan jutaan jemaah lainnya, motivasi utama berpuasa di Makkah adalah keutamaan pahala yang luar biasa. Sebagaimana diyakini umat Muslim, satu kali salat di Masjidil Haram setara dengan 100.000 kali salat di tempat lain.

Menutup kisahnya, Basyir mendoakan agar lebih banyak umat Muslim, khususnya dari tanah air, yang mendapatkan kesempatan untuk merasakan langsung syahdunya Ramadan di Makkah pada tahun-tahun mendatang.

(Kontributor Muslimat NU DIY : Basyir Wa Nadzir, S.E, Diaspora di Mekkah, Arab Saudi, Alumni UNMEKA, Yogyakarta))

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....