Mbah Tiwi Tetap Berjualan di Usia 76 Tahun
- 17 Sep 2026 13:21 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di tengah padatnya aktivitas warga di Jalan Kolonel Sugiyono, Yogyakarta, sosok sederhana Mbah Tiwi mencuri perhatian. Perempuan berusia 76 tahun itu masih setia berjualan makanan menggunakan gerobak sederhana di pinggir jalan.
Dengan semangat yang tak surut oleh usia, Mbah Tiwi menjalani aktivitas tersebut demi memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mencari rezeki.
Warung sederhana Mbah Tiwi berada di Jalan Kolonel Sugiyono, tepat di depan Sport ID, Yogyakarta. Meski hanya mengandalkan gerobak, masakan yang disajikan memiliki daya tarik tersendiri bagi para pelanggan.
Konsep makanannya pun cukup unik karena pembeli dapat mengambil sendiri nasi dan lauk yang tersedia, termasuk memilih sendiri sambal sesuai selera.
Bagi masyarakat yang ingin mencicipi masakan Mbah Tiwi, waktu kedatangan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Masakan biasanya sudah siap disajikan sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB. Pembeli yang datang pada waktu tersebut memiliki kesempatan lebih besar untuk menikmati pilihan makanan sebelum dagangan habis.
“Yang bikin terharu, satu porsi ayam hanya Rp8.000. Kalau nambah pakai sayur jadi Rp10.000,” ujar Bella.
Harga yang sangat terjangkau menjadi salah satu daya tarik warung Mbah Tiwi. Di tengah meningkatnya harga berbagai kebutuhan sehari-hari, seporsi makanan dengan harga Rp8.000 hingga Rp10.000 tentu menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menikmati makanan rumahan dengan biaya ramah di kantong. Namun, di balik harga murah tersebut terdapat perjuangan panjang yang dijalani Mbah Tiwi setiap hari.
Untuk berjualan, Mbah Tiwi disebut harus menempuh perjalanan sekitar 16 kilometer dengan mengayuh sepeda. Jarak tersebut ditempuh demi membawa dagangan sekaligus menuju tempatnya mencari nafkah. Aktivitas itu menjadi gambaran kuat tentang kegigihan seorang perempuan lanjut usia yang tetap berusaha mandiri dan tidak menyerah pada keadaan.
Semangat Mbah Tiwi menjadi pengingat bahwa usia bukan alasan untuk berhenti berjuang. Ketika sebagian orang seusianya mungkin telah menikmati masa istirahat, Mbah Tiwi justru masih menjalani rutinitas dengan mengayuh sepeda, membawa dagangan, menyiapkan makanan, dan melayani pembeli.
“Selama masih diberi kesehatan dan kemampuan, beliau tetap berusaha berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.
Kisah Mbah Tiwi juga menunjukkan bahwa dukungan masyarakat dapat diberikan melalui hal sederhana. Membeli dagangan, menikmati masakannya, dan menghargai perjuangannya menjadi bentuk dukungan nyata bagi perempuan 76 tahun tersebut.
Sebab, seporsi makanan yang dibeli dari gerobak Mbah Tiwi bukan sekadar hidangan untuk mengenyangkan perut, melainkan juga bentuk penghargaan terhadap perjuangan seseorang dalam mencari rezeki dengan penuh ketekunan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....