Geser Fokus Intervensi, Pemkot Yogyakarta Tangani Stunting sebelum Kehamilan
- 30 Sep 2026 10:02 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta membuat terobosan baru dalam menekan angka stunting. Tidak lagi berfokus penanganan setelah anak lahir, Pemkot Yogyakarta menggeser strategi utama pada upaya pencegahan dini, yaitu membenahi kondisi calon orang tua jauh sebelum proses kehamilan dimulai.
Strategi ini ditegaskan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Pedoman Outcome Based Learning (OBL) Akademi Pencegahan Stunting di Ruang Yudistira Balai Kota Yogyakarta, Selasa, 29 September 2026. Menurutnya, intervensi paling strategis dalam menurunkan prevalensi stunting adalah mencegah munculnya kasus-kasus baru (zero new stunting).
Hasto menekankan, bahwa menangani anak yang sudah terlanjur mengalami stunting jauh lebih sulit dibandingkan mencegah lahirnya anak dengan risiko stunting. Sehingga, intervensi akan lebih strategis jika dilakukan sejak sebelum kehamilan, bukan menunggu anak mengalami stunting
“Sekarang yang paling strategis memang kalau kita bisa mencegah lahirnya atau munculnya stunting baru. Kalau kita bisa mencegah munculnya stunting baru, maka OBL Akademi Pencegahan Stunting ini betul-betul sukses,” katanya.
Guna merealisasikan target tersebut, titik berat penanganan digeser ke hulu, yakni melalui kesiapan calon pengantin dan perempuan pra-nikah. Pemkot Yogyakarta bakal memperkuat skrining kesehatan bagi calon orang tua sebelum melangkah ke jenjang pernikahan atau merencanakan kehamilan.
Hasto menjelaskan, pemeriksaan kesehatan meliputi, status Anemia dengan memastikan calon ibu bebas dari anemia agar pasokan oksigen dan nutrisi ke janin kelak optimal. Lingkar Lengan Atas (LILA) dengan memastikan calon ibu tidak mengalami Kurang Energi Kronis (KEK).
Sedangkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan memastikan berat dan tinggi badan berada pada rentang ideal, dan Faktor Usia dengan memastikan usia kehamilan berada pada rentang yang aman bagi kesehatan reproduksi. Jika dari hasil skrining ditemukan kondisi calon pengantin yang belum ideal, maka intervensi medis dan pendampingan gizi akan berikan terlebih dahulu hingga kondisi fisik calon ibu benar-benar siap untuk hamil.
"Kalau mencegah itu konsepnya dengan cara seperti ini, kita men-treatment di segmen yang tepat," ujarnya.
Lebih lanjut, Hasto mengingatkan, stunting bukan semata-mata masalah medis atau kesehatan. Faktor non-kesehatan juga menjadi perhatian seperti tingkat kemiskinan, tingkat pendidikan, akses air bersih, hingga kondisi sanitasi lingkungan memegang peranan sangat besar.
Oleh karena itu, strategi penanganan di hulu ini diintegrasikan melalui Akademi Pencegahan Stunting, sebuah program pengembangan kapasitas Aparatur Sipil Negara (ASN) berbasis Outcome Based Learning (OBL) yang digagas BKPSDM Kota Yogyakarta. Melalui pendekatan konvergensi ini, seluruh perangkat daerah tidak lagi bekerja sendiri-sendiri, melainkan mengarahkan program dan data sasaran by name by address pada kelompok sasaran yang sama.
“Kita bisa mencobalah dengan match time antara substansi dan manajemen, kemudian kita coba hitung betul by name by address-nya di Kota Yogyakarta ini agar nanti kita bisa mendapatkan best practice,” ujarnya, menambahkan.
Melalui percepatan intervensi pra-nikah dan penguatan kapasitas aparatur ini, Pemkot Yogyakarta optimistis mampu memutus mata rantai stunting sejak dari akarnya, memastikan setiap bayi di Kota Yogyakarta lahir sehat dan tumbuh optimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....