Rektor UIN Sunan Kalijaga Sajikan Seni Meneliti untuk Menjadi Scholar Mandiri

  • 01 Okt 2026 16:49 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, menyoroti keprihatinannya terhadap penggunaan kecerdasan buatan atau AI sebagai jalan pintas dalam penulisan karya ilmiah. Hal itu disampaikannya melalui buku berjudul The Art of Scientific Inquiry: Menguasai Cara Berpikir, Meneliti, dan Menulis Ilmiah.

Menurutnya, sebelum seorang peneliti mengajukan pertanyaan yang tampak sederhana, terdapat berbagai tahapan yang harus dilalui, mulai dari membaca karya-karya terdahulu, mengikuti perdebatan akademik, mengenali persoalan yang belum terjawab, hingga menjalankan berbagai proses ilmiah lainnya.

Setelah pertanyaan penelitian ditemukan, proses berikutnya juga membutuhkan kerja ilmiah, seperti mencari bukti, membangun argumen, dan menuliskannya secara jernih. Perjalanan intelektual tersebut menjadi bagian yang dibahas Prof. Noorhaidi Hasan dalam bukunya yang resmi diluncurkan pada Selasa, 29 September 2026, di Gedung Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Prof. Noorhaidi menegaskan, salah satu tugas peneliti adalah menghasilkan kebaruan atau novelty, yakni menemukan sisi dari suatu persoalan yang belum dikaji atau dijelaskan oleh sarjana lain.

“Untuk mengetahui letak sumbangan tersebut, peneliti harus mengikuti perkembangan perdebatan akademik dalam bidangnya. Internet dan teknologi digital kini memudahkan akses terhadap penelitian dari berbagai negara, tetapi peneliti tetap perlu membaca dan menilai karya-karya itu secara kritis,” ujarnya.

Gagasan dalam The Art of Scientific Inquiry tumbuh dari perjalanan panjang Prof. Noorhaidi dalam belajar, meneliti, mengajar, dan membimbing mahasiswa. Perjalanan akademiknya bermula di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tempat ia menempuh pendidikan sarjana.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Belanda dan meraih gelar M.A. dari Leiden University serta M.Phil. dari International Institute for the Study of Islam in the Modern World, sebelum menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Utrecht University.

Pengalaman belajar di berbagai lingkungan akademik tersebut mempertemukannya dengan tradisi membaca secara kritis, mempertanyakan temuan, dan menguji argumen melalui diskusi. Cara kerja tersebut terus dibawanya ketika meneliti, mengajar, dan membimbing mahasiswa. Pengalaman itu kemudian diolah menjadi buku The Art of Scientific Inquiry.

“Cobalah mengerti secara komprehensif apa yang saya tulis. Ini bisa membantu siapa pun yang ingin menjadi scholar dengan baik. Ini adalah ekstraksi dari perjalanan panjang mengajar, membimbing, dan lain sebagainya, kuliah, berinteraksi dengan sarjana di seluruh dunia,” ucapnya.

Peluncuran buku tersebut menghadirkan Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Prof. Muh. Nur Ichwan, dosen Departemen Sosiologi Fisipol UGM, Fina Itriyati, Ph.D., serta dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Najib Kailani, Ph.D., sebagai pembedah. Ratusan mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga maupun perguruan tinggi lainnya turut menghadiri kegiatan tersebut.

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Prof. Muh. Nur Ichwan, menempatkan pemikiran Prof. Noorhaidi dalam perjalanan studi Islam. Ia mengenang masa ketika keduanya belajar di Leiden University dan mendalami pendekatan yang memungkinkan Islam dikaji melalui pertanyaan akademik serta penelitian empiris.

Disisi lain, dosen Departemen Sosiologi Fisipol UGM, Fina Itriyati, Ph.D., menilai buku tersebut mengingatkan pembaca mengenai pentingnya peran manusia dalam penelitian. Menurutnya, daya kritis, kepekaan dalam melihat persoalan, serta kemampuan memeriksa asumsi sendiri tumbuh melalui proses yang panjang. Bagi Fina, cara berpikir yang dibentuk melalui riset pada akhirnya turut memengaruhi cara seseorang memahami kehidupan sehari-hari dan mengambil keputusan.

Sementara itu, Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Najib Kailani, Ph.D., menilai The Art of Scientific Inquiry memiliki kekuatan karena mengajak pembaca memikirkan kembali pekerjaan yang sering dianggap selesai sebelum penelitian dimulai, yakni bagaimana rasa ingin tahu berkembang menjadi pertanyaan yang layak diajukan.

Menurut Najib, pertanyaan ilmiah tidak lahir hanya dari keinginan mencari jawaban. Peneliti perlu membaca karya para sarjana lain untuk mengetahui apa yang telah dijelaskan dan di mana penelitiannya dapat memberikan sumbangan. Dalam proses tersebut, tinjauan pustaka juga dapat menumbuhkan kerendahan hati intelektual.

“Ketika berhadapan dengan fakta atau gejala, peneliti tidak sekadar mencocokkannya dengan teori yang sudah ada. Ia berusaha merumuskan kemungkinan penjelasan yang paling masuk akal, lalu mengujinya lebih lanjut,” ujarnya.

Najib menjelaskan, pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa penelitian menuntut kemampuan bernalar, bukan hanya ketepatan dalam menjalankan prosedur. Buku ini juga mengajak peneliti menyadari bahwa posisinya di lapangan, cara berhubungan dengan informan, serta kepercayaan yang berhasil dibangun dapat memengaruhi data dan penafsirannya.

The Art of Scientific Inquiry mengajak pembaca menjalani proses ilmiah secara sungguh-sungguh, mulai dari membaca untuk memahami perdebatan, mengajukan pertanyaan yang bermakna, hingga membangun penjelasan yang terbuka untuk diuji. Dari proses tersebut, seorang peneliti belajar berpikir mandiri sekaligus memberikan sumbangan bagi perkembangan pengetahuan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....