Menag: Ekoteologi Ajarkan Manusia Memuliakan Alam
- 13 Jun 2026 02:20 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya ekoteologi sebagai cara pandang yang menghubungkan manusia, alam, dan Tuhan. Melalui pendekatan ini, alam tidak dipandang sekadar sebagai objek yang dapat dimanfaatkan, tetapi sebagai manifestasi kebesaran Allah yang harus dijaga dan dimuliakan.
Hal tersebut disampaikan Menag saat memberikan ceramah dalam kegiatan pembinaan pegawai di Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Menurutnya, cara manusia memandang alam akan menentukan sikapnya terhadap lingkungan.
Ia menjelaskan, ketika alam hanya dianggap sebagai benda atau sumber daya semata, manusia cenderung mudah mengeksploitasi dan merusaknya. Sebaliknya, jika alam dipahami sebagai tajalli atau perwujudan kebesaran Tuhan, maka akan tumbuh sikap hormat, bijak, dan penuh tanggung jawab dalam memperlakukannya.
"Kalau kita bicara ekoteologi, kita bicara tentang alam yang dihubungkan dengan Tuhan," ujarnya.
Menag menambahkan, alam semesta menyimpan berbagai tanda kebesaran Allah yang dapat ditemukan dalam seluruh ciptaan, mulai dari gunung, lautan, tumbuhan, hingga unsur terkecil yang dapat diamati melalui mikroskop. Karena itu, ilmu pengetahuan semestinya menjadi jalan untuk semakin mengenal Tuhan, bukan menjauh dari-Nya.
Menurutnya, dalam perspektif tasawuf, alam dipahami sebagai manifestasi kebesaran Allah. Namun, pemahaman tersebut tidak berarti menyamakan Tuhan dengan alam. Allah tetap Maha Transenden, sementara alam menjadi media bagi manusia untuk mengenali tanda-tanda kebesaran-Nya.
Dari pemahaman tersebut lahir etika lingkungan yang kuat. Menag menegaskan, merusak alam tidak hanya merupakan kesalahan ekologis, tetapi juga menunjukkan bentuk kegagalan spiritual. Menurutnya, manusia yang memiliki kesadaran tauhid tidak akan memperlakukan alam secara kasar.
Dalam kesempatan itu, Menag juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara pengembangan ilmu pengetahuan dan kesadaran spiritual. Menurutnya, akal, riset, laboratorium, dan teknologi harus berjalan seiring dengan nilai-nilai ketuhanan.
"Iqra' harus disertai bismirabbik. Membaca tanpa menyebut nama Tuhan hanya akan melahirkan monster," ucapnya.
Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan menyambut baik kehadiran Menteri Agama. Ia menilai pesan ekoteologi yang disampaikan sejalan dengan komitmen UIN Sunan Kalijaga dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berlandaskan nilai etik dan spiritual.
Menurutnya, ceramah tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan melalui teknologi dan regulasi saja, tetapi juga membutuhkan perubahan cara pandang manusia terhadap alam sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....