UIN Sunan Kalijaga dan BPIP Perkuat Pendidikan Pancasila Integratif

  • 29 Jul 2026 19:52 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) memperkuat pengembangan Pendidikan Pancasila yang integratif melalui Simposium Nasional Pendidikan Pancasila bertema "Melalui Integrasi Ilmu, Spiritualitas, dan Kebangsaan: Penguatan Ideologi Pancasila dalam Perspektif Integratif, Interkonektif, dan Transformatif" di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Senin, 27 Juli 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Centre for Integrative, Interconnected, and Transformative Studies (CIINTRA) UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan BPIP ini diikuti sekitar 250 peserta secara luring dan ratusan peserta daring dari berbagai perguruan tinggi, lembaga pemerintah, dan komunitas akademik di Indonesia. Acara dibuka secara resmi melalui pemukulan gong oleh Kepala BPIP, Prof. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., didampingi oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan serta para narasumber yang hadir.

Direktur CIINTRA sekaligus Ketua Panitia, Prof. Dr. Eva Latipah, mengatakan tantangan Pendidikan Pancasila saat ini bukan lagi sebatas menghafal lima sila, melainkan menginternalisasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari dan praktik profesional. Menurutnya, Pendidikan Pancasila perlu dihadirkan sebagai landasan etik yang membentuk cara berpikir dan pengambilan keputusan di berbagai disiplin ilmu.

“Mahasiswa tidak cukup hanya menghafal Pancasila. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi cara berpikir, cara mengambil keputusan, sekaligus menjadi landasan etis dalam setiap disiplin ilmu,” ujarnya.

Eva menjelaskan, paradigma integratif, interkonektif, dan transformatif yang dikembangkan UIN Sunan Kalijaga berupaya mempertemukan ilmu pengetahuan, spiritualitas, kemanusiaan, dan kebudayaan dalam satu kerangka keilmuan. Dalam konteks tersebut, Pancasila ditempatkan sebagai horizon of ethics yang membimbing pengembangan ilmu sekaligus transformasi sosial.

Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, menegaskan bahwa Pancasila tidak cukup diajarkan secara legalistik atau indoktrinatif. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila harus diintegrasikan ke dalam seluruh proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Di tengah derasnya arus globalisasi dan berbagai tantangan kebangsaan, Pendidikan Pancasila harus dihadirkan melalui perspektif integratif dan interkonektif sehingga benar-benar hidup dalam seluruh proses pembelajaran,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Noorhaidi juga memberikan apresiasi kepada Prof. M. Amin Abdullah dan Prof. K.H. Yudian Wahyudi atas kontribusinya dalam membangun fondasi pengembangan UIN Sunan Kalijaga, mulai dari penguatan paradigma integrasi ilmu hingga transformasi kelembagaan dan internasionalisasi kampus.

Kepala BPIP, Prof. K.H. Yudian Wahyudi, menekankan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan, riset, dan nilai-nilai agama dalam membangun peradaban bangsa. Ia menilai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, khususnya UIN Sunan Kalijaga, memiliki posisi strategis dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul di bidang sains, teknologi, dan memiliki karakter kebangsaan yang kuat.

“Ilmu, agama, dan riset harus berjalan bersama. Bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi bangsa yang memimpin peradaban,” ujarnya.

Simposium turut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prof. M. Amin Abdullah, Prof. Melani Budianta, Prof. Siti Ruhaini Dzuhayatin, dan Prof. Sahiron Syamsuddin. Berbagai materi yang disampaikan menyoroti Pancasila sebagai etika keilmuan, praktik kebudayaan, perspektif kemanusiaan global, hingga integrasi kajian Islam dengan kecerdasan buatan dan robotika.

Selain sesi ilmiah, kegiatan juga diramaikan dengan pengumuman pemenang Lomba Esai Nasional Pendidikan Pancasila 2026 yang diikuti pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Melalui simposium ini, UIN Sunan Kalijaga dan BPIP menegaskan komitmennya untuk menghadirkan model Pendidikan Pancasila yang tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi mampu membentuk cara berpikir, bertindak, dan menyelesaikan persoalan kebangsaan melalui pengembangan ilmu pengetahuan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....