Cerita Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Magang di KBRI Astana Kazakhstan

  • 16 Feb 2026 05:23 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Di tengah derasnya globalisasi menuntut perguruan tinggi tidak sekadar mencetak lulusan unggul secara akademik, tetapi juga mampu bersaing di level internasional. Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga mampu membuktikannya.

Kampus integratif di Yogyakarta ini terus melahirkan mahasiswa yang tidak hanya memahami dinamika global, melainkan juga aktif dan memberi kontribusi nyata di kancah internasional. Salah satunya yakni Julia Syifa Az-Zahra, mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, yang membawa semangat keilmuan sekaligus kekayaan budaya Indonesia hingga ke jantung diplomasi internasional di Kazakhstan.

Melalui pengalaman magang internasional di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Astana Kazakhstan, Zahra, sapaan akrabnya, menjadi representasi nyata bagaimana UIN Sunan Kalijaga menyiapkan mahasiswa untuk tampil di ruang global. Zahra menjalani program magang internasional mulai 6 November 2025.

“Selama hampir tiga bulan, saya mengikuti sistem rotasi di empat fungsi utama KBRI Astana, mulai dari penerangana, sosial, dan budaya; administrasi; protokol, konsuler, dan perlindungan WNI; hingga fungsi ekonomi, politik, dan digital. Pola kerja lintas fungsi ini memberi saya gambaran utuh tentang bagaimana diplomasi Indonesia dijalankan dari balik layar,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Zahra juga terlibat dalam berbagai agenda strategis kedutaan, mulai dari penyambutan atlet judo Indonesia, kehadiran dalam ajang seni internasional, hingga dukungan bagi atlet bulu tangkis nasional. Rangkaian aktivitas ini menegaskan bahwa diplomasi modern tidak hanya berlangsung di meja perundingan, tetapi juga melalui seni, olahraga, dan relasi antarmanusia.

Salah satu momen paling berkesan bagi Zahra terjadi saat ia dipercaya tampil dalam Resepsi Diplomatik KBRI Astana. Di hadapan para tamu internasional, ia membawakan Tari Persembahan Melayu dari Sumatera sebagai representasi diplomasi budaya Indonesia.

Menariknya, Zahra tidak memiliki latar belakang sebagai penari. Kepercayaan itu ia jawab dengan latihan intensif selama beberapa pekan, sebuah proses yang mengajarkannya makna keberanian dan kesiapan belajar di ruang global.

“Melalui berbagai agenda resmi, saya belajar bahwa semangat kebangsaan tetap hidup meski jauh dari Tanah Air,” ujar Zahra.

Bagi mahasiswa angkatan 2022 ini, magang internasional bukan sekadar pengalaman profesional, melainkan ruang pembentukan karakter dan kesadaran kebangsaan. Di tengah dinamika dunia yang luas dan beragam, ia menyadari bahwa akar budaya tetap menjadi pijakan dan tempat kembali.

Latar belakang akademik Sastra Inggris di UIN Sunan Kalijaga, kata Zahra, menjadi modal penting dalam menjalani program magang internasional tersebut. Ia mengungkap, kompetensi yang diperoleh selama kuliah, mulai dari kemampuan berpikir kritis, keterampilan menulis, analisis teks, hingga kepekaan sosial dan budaya sangat menunjang tugas-tugasnya, baik dalam penyusunan laporan, komunikasi tertulis, maupun produksi konten komunikasi publik di lingkungan kedutaan.

“Selain kemampuan akademik, nilai-nilai yang ditanamkan selama perkuliahan, seperti sikap reflektif, terbuka, dan adaptif, menjadi fondasi penting bagi saya dalam menghadapi lingkungan kerja lintas budaya,” kata Zahra.

Menurut Zahra, UIN Sunan Kalijaga memiliki peran signifikan dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia global. Proses pembelajaran tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi mendorong mahasiswa berpandangan luas dan berani mengambil peluang internasional. Dukungan dosen serta ekosistem akademik yang inklusif menjadi ruang aman untuk bertumbuh dan melangkah lebih jauh.

Pengalaman di Astana juga menantang Zahra secara personal. Adaptasi di institusi diplomatik dengan standar profesionalisme tinggi, keterbatasan bahasa Rusia, hingga cuaca ekstrem Kazakhstan menjadi ujian ketahanan fisik dan mental. Namun, justru dari tantangan itulah ia belajar tentang disiplin, keberanian, dan kesiapan menghadapi realitas kerja global.

“Kesempatan global sering kali datang bukan dalam bentuk rencana yang sempurna, melainkan dari keberanian untuk merespons peluang yang ada,” ucapnya, memberi pesan kepada mahasiswa yang bercita-cita menembus panggung internasional.

Perjalanan mungkin tidak selalu mudah, tetapi setiap keberanian untuk mencoba akan membuka jalan baru. “Persiapkan diri sebaik mungkin, percaya pada proses, dan jangan takut melangkah keluar dari zona nyaman,” katanya.

Kisah Zahra menjadi cermin bagaimana UIN Sunan Kalijaga menumbuhkan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap berperan di ruang global dengan tetap berlandaskan nilai keilmuan dan kebangsaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....