UIN Sunan Kalijaga Kukuhkan 570 Lulusan, Ini Harapan Rektor
- 12 Feb 2026 14:56 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya meluluskan sarjana. Namun, di tengah derasnya tuntutan zaman, disrupsi teknologi, krisis kemanusiaan, hingga perubahan social global, perguruan tinggi dituntut melahirkan lulusan yang berdampak.
Hal itu mengemuka dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar pada Rabu, 11 Februari 2026 di Gedung Multipurpose Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, yang dibuka secara langsung oleh Ketua Senat Universitas, Prof. Dr. Kamsi. Total sebanyak 570 wisudawan dan wisudawati yang dikukuhkan pada periode ini.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan dalam pidatonya mengungkap, wisuda bukan sekedar seremoni akademik, melainkan penanda ujung dari proses panjang yang ditempuh dengan disiplin dan dedikasi. Di titik itulah, para lulusan dinilai layak menyandang gelar kesarjanaan, sebuah otoritas intelektual yang membawa tanggung jawab moral.
Lebih lanjut Noorhaidi mengatakan, UIN Sunan Kalijaga menempati posisi epistemik yang strategis dan unik. Kampus ini mengusung paradigma integrase-interkoneksi, yang menyatukan ilmu keagamaan dengan ilmu social-humaniora, sains dan teknologi, serta ilmu lainnya.
Dalam hal ini, ilmu-ilmu keislaman tidak berdisi terpisah, melainkan menjadi landasan filosofis dan etik bagi setiap proses inkuiri saintifik. Maka dari itu, Noorhaidi menyebut lulusan UIN Sunan Kalijaga mendapatkan predikat kesarjanaan plus.
“Oleh karen itu,, Anda lulus dengan predikat kesarjanaan plus, karena tidak saja memiliki komptensi keilmuan masing-masing, tetapi juga dibekali dengan semangat keislmana, spiritualitas, dan semangat untuk terus memberikan pengabdian terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara, dan peradaban dunia,” ujarnya.
Menurutnya, ilmu harus hadir sebagai daya tahan menghadapi kompleksitas masa depan, bukan sekadar pengetahuan teknis. Komitmen tersebut diterjemahkan dalam agenda besar menjadikan UIN Sunan Kalijaga sebagai “kampus berdampak”, yang artinya ilmu yang dikembangkan dan alumni UIN Sunan Kalijaga memberi kontribusi nyata bagi transformasi sosial, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional.
Berkaitan dengan itu, Rektor menyebut bahwa riset dosen maupun mahasiswa difokuskan pada respon atas problem aktual. Untuk memperkuat ekosistem tersebut, kampus juga telah mendirikan pusat inovasi dan hilirisasi riset, sebuah jembatan agar temuan ilmiah tidak berhenti di ruang seminar atau jurnal, tetapi bertransformasi menjadi solusi konkret.
Di mana pada akhirnya ukuran keberhasilan lulusan tidak diletakkan pada posisi atau jabatan melainkan pada dampak yang dihadirkan. “Di mana pun pengabdiannya selama memberikan dampak bagi masyarakat, itulah alumni sukses kami,” ucapnya.
Sementara itu, mewakili para wisudawan Zeni Lutfiyah, lulusan Program Doktor Studi Islam Pascasarjana, menyampaikan refleksi yang menempatkan wisuda sebagai momentum transisi. “Wisuda bukan akhir, melainkan jeda dalam perjalanan hidup. Ini pintu menuju babak baru yang penuh tantangan, tetapi juga harapan,” ujarnya di hadapan sidang senat terbuka.
Ia juga mengingatkan, realitas di luar kampus tidak selalu ramah, sehingga keberanian dan optimisme dalam menatap masa depan menjadi penting. “Jika kita bisa memimpikan, pasti kita bisa meraihnya. Dan cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan mencipatakannya. Karena kesuksesan bukan akhir, melainkan sebuah perjalanan, dan kegagalan bukan malapetaka. Yang terpenting adalah keberanian untuk terus maju,” katanya.
Para wisudawan dan wisudawati yang dikukuhkan pada periode ini berasal dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan menjadi penyumbang terbanyak dengan 213 lulusan (97 S1, 113 S2, dan 3 S3), disusul Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam 182 lulusan (123 S1 dan 59 S2). Fakultas Adab dan Ilmu Budaya meluluskan 69 wisudawan (58 S1 dan 11 S2), Fakultas Sains dan Teknologi 57 wisudawan (49 S1 dan 8 S2), serta Pascasarjana 49 lulusan yang terdiri atas 18 magister dan 31 doktor.
Di momen tersebut juga, sejumlah wisudawan mendapat predikat wisudawan terbaik tercepat berdasarkan Surat Keputusan Rektor Nomor 16.1 Tahun 2026 tertanggal 11 Februari 2026. Pada jenjang sarjana, capaian terbaik tercepat diraih Meifika Nanda Saqina (Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi) dengan IPK 3,73 dan Kavina Bi’izzika (Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya) dengan IPK 3,77.
Lalu ada Delfi Ade Yustyan (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan) 3 tahun 3 bulan 3 hari (IPK 3,91), serta Reziq Mahfuz Ma.Iballa (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam) 3 tahun 3 bulan 16 hari (IPK 3,93).
Pada jenjang magister, Prasdika Widas Sena (Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi) menyelesaikan studi dalam 1 tahun 6 bulan 22 hari (IPK 3,87), Bangkit Adi Saputra (Interdisciplinary Islamic Studies, Pascasarjana) dengan IPK 3,92, dan Tiyara (Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya) 1 tahun 8 bulan 27 hari (IPK 3,92).
Selanjutnya Yusuf Firdaus Hasibuan (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam) 1 tahun 10 bulan 10 hari (IPK 4,00), serta Siti Nurjannah (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan) 1 tahun 9 bulan 27 hari (IPK 4,00).
Sementara itu, pada jenjang doktor, Endang Sumiati (S3 Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan) denga IPK 3,88, dan Sriyati Dwi Astuti (Doktor Studi Islam, Pascasarjana) dalam 3 tahun 1 bulan 16 hari (IPK 3,89).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....