Satu Dekade Tekuni Produksi Arang, Joko Mulyanto Masih Ditunggu Pelanggan Setia
- 23 Jul 2026 20:56 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Di tengah berkembangnya penggunaan bahan bakar modern, usaha produksi arang tradisional milik Joko Mulyanto di Padukuhan Gamplong 5, RW 10, RT 02, Suberrahayu, Moyudan, Sleman tetap bertahan bahkan terus diminati pasar. Selama lebih dari satu dekade, tepatnya sejak 2015, Joko konsisten memproduksi arang berkualitas yang menjadi andalan pelaku usaha kuliner seperti angkringan, bakmi, hingga pedagang sate di wilayah Sleman dan sekitarnya.
Usaha yang dijalankan secara sederhana itu dikelola bersama sang istri, Meski skala produksinya tergolong rumahan, permintaan arang tidak pernah surut. Dalam satu kali proses pembakaran, Joko mampu menghasilkan sekitar delapan hingga sembilan bagor arang yang umumnya habis terjual hanya dalam waktu dua hari setelah dibongkar dari tungku pembakaran.
Joko menuturkan, usahanya bermula dari pengalaman membuat roti lapis legit yang menggunakan arang sebagai bahan bakar. Saat itu, kebutuhan arang dipenuhi oleh mertuanya yang memang memproduksi arang. Setelah sang mertua meninggal dunia dan usaha roti mulai sepi, ia memutuskan meneruskan keahlian tersebut hingga menjadi mata pencaharian utama.
"Awalnya saya membuat roti lapis legit yang bahan bakarnya memakai arang. Setelah mertua sudah tidak ada dan usaha roti mulai sepi, akhirnya saya beralih membuat arang sampai sekarang," ujarnya.

Dalam proses produksi, Joko sangat selektif memilih bahan baku kayu. Ia lebih mengutamakan kayu keras seperti mahoni, sonokeling (wesen), asam, dan rambutan karena menghasilkan bara yang lebih awet serta api yang stabil. Menurutnya, kayu lunak seperti sengon, trembesi, maupun munggur menghasilkan arang yang kurang padat sehingga kualitas pembakarannya tidak sebaik kayu keras.
Saat ini kebutuhan kayu tidak lagi dicari sendiri. Selama sekitar satu tahun terakhir, bahan baku sudah dipasok langsung oleh pemasok sehingga proses produksi menjadi lebih efisien. Kayu kemudian dibakar menggunakan tobong berukuran panjang dua meter, lebar satu meter, dan tinggi satu meter. Satu kali proses pembakaran membutuhkan waktu sekitar tiga hari hingga seluruh kayu berubah menjadi arang berkualitas.
Keunggulan lain dari produksi arang milik Joko terletak pada proses pendinginan. Setelah pembakaran selesai, bara tidak disiram menggunakan air, melainkan ditutup menggunakan abu hingga api padam secara alami. Cara tersebut membuat arang tetap kering tanpa perlu dijemur, sehingga kualitasnya tetap terjaga ketika sampai di tangan pembeli.

Menurut Joko, hingga kini dirinya menjadi satu-satunya produsen arang di tingkat kecamatan. Kondisi itu membuat pemasaran berjalan relatif lancar karena kebutuhan pasar masih tinggi.
"Di satu kecamatan Moyudan ini tidak ada lagi yang membuat arang selain saya". Pembelinya juga banyak, mulai angkringan, bakmi sampai penjual sate, jadi saya tidak pernah kesulitan menjual hasil produksi," katanya.
Salah satu pelanggan sekaligus pengecer arang, Ferdi, mengaku memilih mengambil arang dari tempat Joko karena kualitasnya lebih unggul dibandingkan produk lain. ia rata-rata membeli empat hingga lima sak untuk dipasarkan kembali ke sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman, terutama kawasan Moyudan, Godea, Sedayu.
"Saya mengambil arang di Pak Joko karena kualitasnya bagus, arangnya utuh, cepat menyala, dan baranya lebih awet dibandingkan yang lain," ucapnya.
Dengan mempertahankan proses produksi tradisional dan mengutamakan kualitas bahan baku, usaha arang milik Joko Mulyanto membuktikan bahwa produk lokal masih memiliki daya saing tinggi di tengah perubahan zaman. Konsistensi menjaga mutu membuat pelanggan terus berdatangan, sekaligus menjadi bukti bahwa usaha rumahan berbasis keterampilan turun-temurun masih mampu bertahan dan memberikan penghidupan bagi keluarga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....