Muhammadiyah One Brand UMKM Dorong Kolaborasi dan Perluas Pasar
- 06 Apr 2026 13:00 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Upaya mendorong pelaku UMKM naik kelas terus dilakukan oleh Lembaga Pengembang UMKM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (LP UMKM PWM DIY). Salah satunya melalui konsep Muhammadiyah One Brand UMKM yang menekankan kolaborasi dan sinergi antar UMKM, dan menjadi strategi memperluas pasar sekaligus mengurangi persaingan antar pelaku usaha dengan pendekatan kolektif yang berkelanjutan.
Konsep Muhammadiyah One Brand hadir sebagai solusi untuk menyatukan berbagai produk UMKM dalam satu identitas kolektif. Pendekatan ini diharapkan mampu memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di tingkat nasional maupun global.
Dalam Obrolan UMKM Pro 2 Jogja, Senin, 6 April 2026, Ketua LP UMKM PWM DIY, Farid Ma’ruf mengungkap latar belakang hadirnya gerakan Muhammadiyah One Brand UMKM. "Dengan kegelisahan yang ada di UMKM dengan banyaknya merek, kemudian persaingan pasar, ya kenapa enggak kita wujudkan saja di satu brand yaitu One Brand UMKM," katanya.
"Jadi harapannya ke depannya sudah tidak ada lagi itu persaingan antara UMKM. Nantinya akan lebih ke sinergi, kolaborasi, dan maju bersama untuk pengembangan UMKM," kata Farid menambahkan.
Dalam implementasinya, program ini tetap menerapkan proses kurasi ketat terhadap produk yang akan bergabung dalam One Brand UMKM. Standar utama meliputi legalitas usaha, kesiapan produksi, serta kualitas produk yang mampu memenuhi permintaan pasar secara konsisten.
“Pelaku UMKM yang ingin bergabung harus memiliki izin usaha lengkap dan kemampuan produksi yang jelas sesuai target permintaan. Kami tidak ingin ada pesanan besar yang tidak terpenuhi karena tidak siap produksi," ujar Farid.
Sementara, Founder Bahana UMKM Bergerak Sleman, Tetra Budiarto, mengungkapkan bahwa selain sinergi, salah satu yang menjadi pondasi utama pengembangan UMKM adalah kemampuan membaca peluang pasar. Ia mencontohkan kebutuhan jamaah haji terhadap makanan khas Indonesia sebagai peluang strategis yang dimanfaatkan oleh pelaku UMKM.
"Kami melihat kebutuhan jamaah haji terhadap makanan pendamping seperti sambal, rendang, dan abon sebagai peluang besar,” ujar Tetra. "Dari situ kami menggandeng UMKM untuk menghadirkan produk bersama Muhammadiyah One Brand UMKM yang sesuai kebutuhan pasar tersebut,” ujarnya.
Empat produk utama yang saat ini dikembangkan meliputi rendang, sambal, sambal pecel, dan abon dengan kemasan praktis, yang dirancang khusus agar aman dibawa dalam perjalanan jauh, termasuk untuk kebutuhan ibadah haji. "Produk UMKM rendang misalnya, kita ajak bergabung dan dipasarkan dengan label RendangMU (Rendang Muhammadiyah), begitupun dengan sambal, ada SambalMU (Sambal Muhammadiyah)," ucap Tetra.
“Keberadaan kami adalah membantu pelaku UMKM menemukan solusi, termasuk saat menghadapi kenaikan biaya produksi seperti harga kemasan,” kata Tetra. “Kami juga membuka ruang diskusi untuk mencari jalan keluar bersama dengan berbagai pihak terkait,” ujarnya.
Program Muhammadiyah One Brand UMKM tidak hanya berfokus pada pemasaran, tetapi juga menyediakan pelatihan dan pendampingan usaha. Dukungan tersebut mencakup peningkatan kapasitas pelaku usaha hingga akses terhadap jaringan distribusi yang lebih luas.
Ke depan, konsep ini diharapkan dapat diadopsi oleh berbagai daerah di Indonesia untuk memperkuat UMKM secara nasional. Kolaborasi lintas wilayah diyakini mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan bagi pelaku usaha kecil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....