Bidik Pasar Ekspor, GKR Bendara Ajak Pelaku Usaha Kulit Bangun Ekosistem Digital
- 13 Jun 2026 12:32 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Industri kerajinan kulit di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dinilai memiliki modal kuat dan potensi besar untuk merambah pasar internasional. Kualitas produk yang kompetitif serta momentum penguatan nilai tukar mata uang asing menjadi peluang emas yang harus ditangkap oleh para pelaku usaha lokal.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Temu Kemitraan dan Gelar Produk Kulit bertajuk “Gebyar Kulit Jogja: Menembus Batas, Merajut Kemitraan” yang diselenggarakan di Ndalem Kulit Jogja, Bantul, pada Selasa, 9 Juni 2026.
Acara yang menjadi wadah penguatan jejaring ini dihadiri langsung oleh Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, serta Wakil Ketua ASITA Bidang Produk dan Pemasaran, Fachri Herkusuma.
Dalam kesempatan tersebut, sebanyak 52 perajin kulit unjuk gigi menampilkan pelbagai produk kreasi berbahan dasar kulit sapi. Produk yang dipamerkan meliputi sandal, tas, sepatu, jaket, hingga aksesori, dengan rentang harga yang variatif mulai dari Rp20.000 hingga menembus jutaan rupiah.
Adaptasi teknologi
Ketua BPPD DIY, GKR Bendara menegaskan, kunci utama perluasan pasar di era modern adalah adaptasi teknologi. Ia meminta para pengrajin tidak lagi konvensional, melainkan harus mulai aktif memanfaatkan platform digital.
“Perajin harus melek digital dan promosi online. Saat ini media sosial menjadi sarana yang sangat efektif untuk memperkenalkan produk sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai kualitas dan proses pembuatan produk kulit asli,” katanya.
GKR Bendara mengungkapkan, melonjaknya kunjungan wisatawan mancanegara termasuk untuk berbelanja produk kerajinan berkualitas terutama di Yogyakarta yang berasal dari Malaysia, Singapura, Jepang, dan Tiongkok merupakan momentum yang tepat.
Selain itu saat ini, tingginya nilai tukar dolar otomatis membuat produk kerajinan lokal jauh lebih kompetitif dari segi harga bagi turis asing.
GKR Bendara menyarankan adanya gerakan pembuatan konten edukasi secara masif dan kolektif oleh komunitas pengrajin untuk membangun kesadaran merek (brand awareness).
Inovasi
Di sisi lain, persaingan tidak boleh hanya bertumpu pada perang harga, melainkan wajib mengutamakan inovasi desain, personalisasi produk, kualitas pengerjaan, serta mutu pelayanan.
“Produk kulit Jogja memiliki kualitas yang tidak kalah unggul, tinggal bagaimana strategi pemasarannya. Bayangkan jika 52 pelaku usaha secara rutin mengunggah konten edukasi bersama, dampaknya akan sangat besar dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap produk kulit Yogyakarta,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas para pelaku UMKM binaan Ndalem Kulit Jogja. Dirinya mengaku terkesan dengan kreativitas dan inovasi yang ditunjukkan para pelaku UMKM, bahkan langsung membeli dan mengenakan salah satu sepatu kulit yang dipamerkan dengan metode pembayaran nontunai QRIS.
"Saya melihat langsung kualitas produknya sangat baik dan kompetitif. Bahkan saya membeli sepatu kulit asli dan langsung memakainya. Kualitasnya sudah sangat bagus dan mampu bersaing dengan produk dari luar,” katanya, mengungkapkan.
Wawan menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen untuk merajut ekosistem industri yang solid demi menyokong produk lokal ke panggung dunia. Kolaborasi erat antara pemerintah, pengusaha, komunitas, dan pelaku usaha diyakini mampu menjadi katalisator bagi industri kulit Yogyakarta untuk go internasional.
"Kita ingin membangun ekosistem industri kulit yang melibatkan pemerintah, pengusaha, komunitas, dan pelaku usaha. Dengan kolaborasi yang kuat, industri kulit Yogyakarta dapat berkembang lebih maju dan mampu menembus pasar global," ucapnya.
Gayung bersambut, harapan tersebut didukung penuh oleh para perajin. Bowo, salah satu perajin kulit menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, sinergi dan kolaborasi antar pelaku industri menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing produk kulit lokal.
Bowo menyebutkan, melalui sinergi dan kolaborasi serta apresiasi yang lebib besar dari masyarakat, karya-karya handmade yang dihasilkan pengrajin kulit, akan semakin memiliki nilai seni dan keterampilan tinggi dan mampu bersaing di pasar global.
“Melalui kolaborasi dan kecintaan terhadap produk dalam negeri, kami berharap karya-karya pengrajin kulit tidak lagi dipandang sebelah mata dan memiliki nilai jual yang sesuai dengan kualitas serta proses pembuatannya,” ujarnya, menyebutkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....