Batagor Crispy Babarsari Bertahan di tengah Tantangan

  • 23 Feb 2026 08:57 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Usaha batagor crispy milik Faisal Yusuf yang berlokasi di Babarsari, Sleman tepatnya di depan Circle K Babarsari, terus bertahan di tengah persaingan kuliner kaki lima yang kian ketat. Lapak sederhana ini menjadi salah satu pilihan jajanan sore bagi pelajar dan warga sekitar. Dengan konsep batagor crispy yang masih tergolong jarang di kawasan tersebut, usaha ini mencoba menghadirkan cita rasa khas Jawa Barat di Yogyakarta.

Asep karyawan sekaligus asisten pemilik, menjelaskan bahwa lapak di Babarsari baru beroperasi sekitar satu tahun lebih. “Nama pemiliknya Faisal Yusuf. Kalau yang di sini baru setahunan lebih kayaknya,” ujarnya.

Selain di Babarsari, usaha ini juga memiliki cabang lain di kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM), tepatnya di sekitar bundaran UGM. Dalam sehari, produksi batagor bisa mencapai tujuh hingga delapan bungkus pada hari biasa.

Namun saat musim libur atau kondisi sepi, jumlahnya menurun menjadi empat hingga lima bungkus per hari, dengan masing-masing bungkus berisi sepuluh potong. Sementara untuk menu otak-otak, rata-rata terjual sekitar enam bungkus per hari.

“Kalau hari-hari biasa bisa sampai 7 atau 8 bungkus. Kalau libur paling 4 sampai 5 bungkus,” katanya.

Di balik gerobak sederhana depan Circle K Babarsari, Asep sigap melayani pembeli batagor crispy khas Jawa Barat milik Faisal Yusuf. (Foto: Valen)

Asep menuturkan, sebagian bahan seperti pangsit dibeli dari pemasok, sementara adonan dan saus kacang dibuat sendiri di tempat. Ia menyebut usaha ini dipilih karena melihat peluang pasar. “Di sini sudah banyak batagor, tapi yang model crispy kayak gini masih jarang,” ucapnya.

Konsep renyah dan rasa ikan yang kuat menjadi daya tarik utama bagi pembeli. Meski demikian, kondisi penjualan belakangan ini mengalami penurunan. Faktor cuaca dan belum aktifnya aktivitas mahasiswa menjadi penyebab utama.

“Untuk saat ini lagi menurun, soalnya mahasiswa juga belum banyak. Kalau hujan, pembeli malas keluar,” ujarnya.

Selain itu, kenaikan harga bahan baku seperti ikan dan cabai saat musim hujan turut menjadi tantangan. Ia menjelaskan harga cabai sering naik karena banyak yang busuk, sementara pasokan ikan terganggu cuaca buruk di laut.

Mayoritas pembeli batagor ini berasal dari kalangan pelajar dan pengemudi ojek online, dengan pelanggan perempuan lebih mendominasi. Asep menyebut keramahan khas Jawa Barat menjadi nilai tambah pelayanan mereka. “Kalau keunggulannya, kita asli Jawa Barat. Dari cara ngomongnya lebih lembut, itu jadi ciri khas,” katanya.

Ia berharap usaha ini tetap konsisten dari segi rasa dan ukuran agar pelanggan terus kembali.

Sebungkus batagor crispy hangat dengan siraman saus kacang kental jadi andalan lapak Faisal Yusuf di Babarsari, depan Circle K. (Foto: Valen)

Salah satu pembeli, Kristin, mengaku menyukai cita rasa batagor tersebut. “Rasanya enak, ikan berasa, tapi sayang kulit pangsitnya agak melempem kalau dingin. Semoga ke depan renyahnya tahan lama bukan hanya pas panas doang,” ujarnya.

Meski sempat mengalami kegagalan ekspansi di luar kota akibat kendala manajemen, Faisal Yusuf kini memilih fokus menjaga kualitas di dua lokasi yang ada. Dengan gerobak milik sendiri dan lahan sewa, usaha batagor crispy ini terus berupaya bertahan dan berkembang di tengah dinamika bisnis kuliner kaki lima.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....