Kenaikan Harga BBM Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar di Kota Yogyakarta

  • 05 Jul 2026 12:35 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Melambungnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi komoditi pendorong utama terjadinya inflasi di Kota Yogyakarta pada bulan Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat, inflasi Kota Yogyakarta pada Juni 2026 sebesar 0,46 persen secara bulanan (month to month/mtm).

Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno mengatakan, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan tingkat inflasi mencapai 2,65 persen dan memberikan andil 0,41 persen terhadap inflasi umum. Menurutnya, komoditas bensin menjadi penyumbang terbesar terjadinya inflasi pada bulan Juni.

"Komoditas yang memberikan andil terbesar adalah bensin akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi pada bulan Juni. Selain itu, tarif kereta api dan tarif angkutan udara juga mengalami kenaikan," katanya, Rabu, 1 Juli 2026.

BPS mencatat, secara tahunan kelompok transportasi masih menjadi penyumbang signifikan terhadap inflasi tahunan dengan andil 0,73 persen, yang kembali didorong oleh kenaikan harga bensin. Sementara penyumbang terbesar berasal dari kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil 0,94 persen, terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan.

Menurut Joko, dampak kenaikan harga BBM mulai dirasakan melalui meningkatnya tarif berbagai moda transportasi. Sementara itu, tekanan harga pada kelompok makanan relatif lebih terkendali.

"Beberapa komoditas pangan bahkan mengalami penurunan harga karena memasuki musim panen. Cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang mengalami penurunan harga. Namun, bawang merah, bawang putih, wortel, dan pelumas masih mencatat kenaikan harga selama di bulan Juni," ucapnya.

Secara bulanan, inflasi di bulan Juni tercatat lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,20 persen. Meski demikian, secara tahunan inflasi Kota Yogyakarta sebesar 3,18 persen masih berada dalam kisaran target pemerintah, yakni 2,5 persen ±1 persen atau berada pada rentang 1,5–3,5 persen.

Sementara itu, inflasi kumulatif Januari hingga Juni 2026 mencapai 1,57 persen. BPS menilai capaian tersebut masih berada pada jalur yang aman apabila tren inflasi tetap terkendali hingga akhir tahun.

Memasuki bulan Juli 2026, BPS mengingatkan adanya potensi kenaikan harga dari kelompok pendidikan seiring dimulainya tahun ajaran baru. Biaya sekolah, pembelian buku, seragam, hingga perlengkapan pendidikan diperkirakan menjadi komoditas yang perlu diwaspadai.

Selain itu, harga daging sapi juga mulai menunjukkan tren kenaikan di tingkat pedagang akibat naiknya harga sapi hidup. Namun, menurut Joko, dampaknya terhadap inflasi Kota Yogyakarta masih terbatas karena konsumsi masyarakat lebih didominasi oleh daging ayam dan telur.

Di sisi lain, sektor pariwisata menunjukkan perkembangan positif. Pada bulan Mei 2026, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang tercatat sebesar 61,76 persen, sedangkan hotel non bintang mencapai 34,17 persen. Rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di hotel berbintang mencapai 1,59 malam, sementara di hotel non bintang 1,22 malam.

“Komposisi tamu hotel juga masih didominasi wisatawan domestik, yakni 95,94 persen, sedangkan wisatawan mancanegara mencapai 4,06 persen,” katanya, menambahkan.

Meningkatnya okupansi hotel dipengaruhi banyaknya hari libur nasional dan akhir pekan panjang pada Mei. Pihaknya memperkirakan tingkat hunian hotel berpotensi kembali meningkat pada Juni seiring berlangsungnya libur sekolah.

"Kita bisa lihat lagi nanti di bulan depan seperti apa okupansi di Jogja. Kemungkinan naik lagi," ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....