Ekonomi DIY Menguat Dipicu Stabilnya Angka Inflasi dan Ekspor yang Melonjak

  • 02 Jun 2026 21:00 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kondisi perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada awal 2026 menunjukkan tren positif di tengah tantangan ekonomi nasional dan global. Berbagai indikator utama mencatat perkembangan menggembirakan, mulai dari inflasi yang tetap terkendali, meningkatnya kesejahteraan petani, pertumbuhan ekspor, hingga pulihnya sektor pariwisata.

Perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa struktur ekonomi DIY semakin solid dan mampu menjaga laju pertumbuhan secara berkesinambungan.

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, inflasi pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,15 persen secara bulanan (month-to-month). Sementara inflasi kumulatif Januari–Mei mencapai 1,22 persen dan inflasi tahunan (year-on-year) berada di angka 2,77 persen. Angka ini menunjukkan kestabilan harga yang masih terjaga sekaligus mencerminkan kondisi ekonomi daerah yang relatif sehat.

Plt Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, menjelaskan, inflasi Mei 2026 terutama dipengaruhi kenaikan tarif transportasi, khususnya angkutan udara. Namun demikian, tekanan tersebut masih dapat ditekan melalui penurunan harga beberapa komoditas pangan.

"Secara umum kondisi harga di DIY masih relatif terkendali. Kenaikan tarif angkutan udara dan beberapa komoditas pangan memang memberikan tekanan inflasi, tetapi masih dapat diimbangi oleh penurunan harga sejumlah komoditas lain sehingga laju inflasi tetap terjaga," ujarnya dalam rilis Berita Resmi Statistik BPS DIY, Selasa, 2 Juni 2026.

Kinerja positif juga terlihat di sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) DIY pada Mei 2026 tercatat sebesar 109,16 atau naik 2,47 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan kemampuan tukar hasil produksi petani terhadap kebutuhan konsumsi dan biaya produksi semakin membaik.

Endang menyebut kenaikan NTP dipicu meningkatnya harga sejumlah komoditas unggulan seperti cabai merah, salak, gabah, dan sapi potong. Subsektor hortikultura tercatat menjadi penyumbang kenaikan tertinggi dengan pertumbuhan NTP sebesar 3,97 persen, diikuti subsektor tanaman pangan sebesar 3,30 persen.

"Kenaikan NTP menunjukkan bahwa secara rata-rata kondisi petani membaik. Harga yang diterima petani meningkat lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga yang harus mereka bayar. Ini menjadi indikator positif bagi kesejahteraan petani di DIY," katanya.

Dari sisi perdagangan internasional, performa ekspor DIY juga mengalami peningkatan signifikan. Selama Januari–April 2026, nilai ekspor DIY mencapai US$206,83 juta atau tumbuh 17,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebaliknya, nilai impor justru mengalami penurunan sebesar 22,60 persen menjadi US$50,72 juta. Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan DIY mencatat surplus sebesar US$156,12 juta atau meningkat sekitar US$45,67 juta dibandingkan tahun lalu.

Sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekspor DIY dengan kontribusi lebih dari 99 persen dari total ekspor daerah. Produk tekstil, pakaian jadi, barang kulit, plastik, hingga perabot rumah tangga menjadi komoditas unggulan yang diminati pasar internasional. Amerika Serikat, Australia, dan Jerman tercatat sebagai tujuan ekspor terbesar DIY.

"Ekspor DIY masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi lebih dari 99 persen terhadap total ekspor. Ini menunjukkan produk-produk industri DIY tetap memiliki daya saing yang kuat di pasar internasional," kata Endang.

Sektor pariwisata DIY juga kembali menunjukkan geliat positif. Jumlah wisatawan mancanegara yang datang melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) pada April 2026 mencapai 8.689 kunjungan atau meningkat 33,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Secara kumulatif, jumlah wisatawan mancanegara sepanjang Januari–April 2026 mencapai 29.394 kunjungan atau tumbuh 27,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara ke DIY pada April 2026 mencapai 3,59 juta perjalanan atau naik 4,55 persen dibandingkan Maret 2026. Peningkatan mobilitas wisatawan turut mendorong sektor akomodasi, dengan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang mencapai 24,97 persen dan hotel non bintang sebesar 48,23 persen.

Jumlah tamu hotel yang menginap juga meningkat menjadi 701.094 orang atau naik 17,80 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

"Kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara menunjukkan bahwa daya tarik Yogyakarta sebagai destinasi wisata masih sangat kuat. Ini menjadi sinyal positif bagi sektor pariwisata dan berbagai usaha yang terkait," ucap Endang.

Di sektor transportasi, kereta api masih menjadi moda favorit masyarakat. Sepanjang Januari–April 2026, jumlah penumpang kereta api yang berangkat dari DIY mencapai 3,90 juta orang atau meningkat 7,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan juga terjadi pada angkutan barang kereta api yang mencerminkan meningkatnya aktivitas distribusi dan perdagangan di DIY.

Berbagai capaian tersebut menunjukkan bahwa ekonomi DIY tidak hanya bertahan di tengah tekanan global, tetapi juga terus tumbuh dengan kualitas yang semakin baik. Stabilitas harga, meningkatnya kesejahteraan petani, pertumbuhan ekspor, hingga kebangkitan sektor pariwisata dan transportasi menjadi fondasi penting dalam memperkuat pembangunan ekonomi daerah.

Di tengah dinamika ekonomi dunia yang masih berlangsung, DIY dinilai mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, petani, industri, dan masyarakat menjadi modal penting untuk terus memperkuat daya saing daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....