Rawat Warisan Leluhur, Pemkot Yogya Tegaskan Komitmen Menjaga Tradisi Jamasan
- 19 Jul 2026 10:25 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga eksistensi kebudayaan Jawa di era modern. Komitmen nyata ini ditunjukkan melalui penyelenggaraan tradisi tahunan Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti yang digelar khidmat di Plaza Balai Kota Yogyakarta, Kamis, 16 Juli 2026.
Tradisi pembersihan pusaka yang telah rutin dijalankan Pemkot Yogyakarta selama seperempat abad (25 tahun) ini bukan sekadar ritual kosmetik. Agenda budaya ini merupakan langkah konkret pemerintah setempat untuk nguri-uri (melestarikan) warisan leluhur sekaligus merawat nilai-nilai filosofis mendalam yang terkandung di dalamnya.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan yang memimpin langsung prosesi ini mengatakan, jamasan adalah agenda budaya wajib yang digelar berkala setelah prosesi serupa di Keraton Yogyakarta selesai dilaksanakan. Menurutnya, tradisi tahunan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Yogyakarta dalam melestarikan warisan budaya sekaligus merawat nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam pusaka pemberian Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Jamasan atau prosesi pembersihan pusaka telah menjadi tradisi Pemerintah Kota Yogyakarta selama sekitar 25 tahun. Tradisi ini tidak hanya bertujuan merawat kondisi fisik pusaka, tetapi juga menjadi simbol pelestarian budaya yang mengandung makna Manunggaling Kawula-Gusti, yakni harmonisasi hubungan antara pemimpin, masyarakat, dan Tuhan.
"Tradisi ini memang setiap tahun kita laksanakan sebagai bagian dari upaya nguri-uri kebudayaan," katanya.
Dalam prosesi yang berlangsung sakrat tersebut, Wawan mengaku terkesan dengan keindahan pamor yang muncul dari bilah tombak. Hal ini juga menjadi pengalaman pertama baginya memimpin langsung prosesi jamasan.
"Tadi saat dijamas, terlihat pamornya sangat luar biasa. Garis-garis pada bilah tombak semakin tampak jelas setelah dibersihkan. Ini menunjukkan kualitas karya para empu zaman dahulu yang memang sangat tinggi," ucapnya.
Wawan mengungkapkan, nama Wijaya Mukti juga mengandung doa dan harapan agar Kota Yogyakarta senantiasa berjaya, berkembang, serta membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
"Filosofinya adalah bagaimana kita tetap berjaya dan berkembang untuk kemaslahatan. Yang paling penting masyarakat merasa aman dan nyaman. Itulah tujuan yang ingin kita capai," ujarnya.
Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang mendampingi prosesi jamasan, Victor Mukhammadenis Hidayatullah, menjelaskan Tombak Kyai Wijaya Mukti merupakan pusaka pemberian Keraton kepada Pemerintah Kota Yogyakarta pada tahun 2000 sebagai simbol amanah kepemimpinan. Menurutnya, tombak tersebut memiliki dapur Tumenggung Urup dengan pamor Pengkondisen dan dibuat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
"Tombak Wijaya Mukti menjadi pengingat bagi wali kota, jajaran pemerintah, serta masyarakat bahwa untuk mencapai kejayaan yang nyata harus ditempuh melalui kerja keras," katanya, menjelaskan.
Victor menambahkan, tombak sepanjang sekitar 2,5 meter itu diperkirakan dibuat pada masa naik tahta Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Hingga kini, pusaka tersebut dirawat melalui prosesi jamasan setiap tahun agar tetap lestari.
Dalam proses perawatannya digunakan bahan-bahan tradisional seperti air jeruk, minyak wangi, serta larutan khusus yang berfungsi melindungi bilah pusaka dari korosi. Perawatan berkala tersebut membuat Tombak Kyai Wijaya Mukti dapat terjaga kondisinya hingga ratusan tahun ke depan.
Melalui tradisi jamasan, Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjaga benda pusaka sebagai warisan sejarah, tapi juga merawat nilai-nilai budaya, keteladanan, serta semangat pengabdian yang menjadi bagian dari identitas Kota Yogyakarta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....