Sambut 1 Sura, Paguyuban Abdi Dalem Keraton Gelar Tapa Bisu Lampah Mubeng Beteng
- 15 Jun 2026 00:20 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta kembali menggelar Ritual tapa bisu Lampah Mubeng Beteng untuk memperingati 1 Sura tahun 1960 Be yang jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026.
Ketua Sekretariat Bersama (Sekber) Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra, menjelaskan tahun baru 1 Suro ini memiliki Candra Sengkala Luhuring Pangrasa Wiwaraning Budi yang melambangkan 1960 Tahun Jawa dalam penanggalan Jawa Keraton.
Ia menjelaskan, dalam tradisi Candara Sengkala yakni angka tahun Jawa yang dinarasikan melalui rangkaian kata yang dibaca terbalik. Kata luhuring melambangkan angka nol, pangrasa angka enam, wiwaraning angka sembilan, dan budi angka satu, sehingga membentuk angka 1960.
“Luhuring pangrasa wiwaraning budi itu kira-kira artinya bahwa keluhuran perasaan merupakan pintu gerbang menuju kebijaksanaan,” ucapnya saat dihubungi, Minggu, 14 Juni 2026.
Ia berharap para peserta yang mengikuti topo bisu dapat semakin mengutamakan keluhuran rasa dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
Sementara itu, Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Kusumonegoro, menegaskan bahwa berdasarkan kalender Jawa Keraton Yogyakarta, 1 Sura jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026, berbeda satu hari dengan 1 Muharam 1448 Hijriah.
Ia menegaskan kegiatan tersebut merupakan hajat kawula dalem. “Jadi masyarakat yang memperingati. Kemudian, panitia atau koordinatornya itu dari Paguyuban Abdi Dalem Keraton,” ucapnya saat dihubungi, Mingguu 14 Juni 2026.
Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta mengajukan permohonan resmi kepada pihak Keraton untuk meminjam sejumlah fasilitas yang diperlukan dalam pelaksanaan prosesi tersebut. Setelah memperoleh izin, Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta membentuk kepanitiaan yang bertugas menyiapkan dan mengoordinasikan seluruh rangkaian acara.
KRT Kusumonegoro menilai filosofi Lampah Mubeng Beteng dapat dimaknai berbeda oleh setiap orang. Menurutnya, tradisi tersebut mengandung pesan untuk menjaga benteng dalam diri manusia, seperti benteng keimanan, akhlak, dan aturan yang membatasi agar tidak menyimpang dari jalan yang semestinya.
Ia menambahkan, prosesi topo bisu bukan sekadar berjalan tanpa berbicara, melainkan menjadi sarana doa, introspeksi, dan kontemplasi atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.
“Dalam prosesi membisu ini diharapkan kita berdoa dan melakukan introspeksi sebagai bentuk kontemplasi terhadap apa yang telah dijalani pada tahun lalu, sehingga tahun yang akan datang menjadi lebih baik dari sebelumnya,” ucapnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta akan berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton dengan rute dimulai dari Keben, kemudian menuju Ngabean, Pojok Beteng Kulon, Plengkung Gading, Pojok Beteng Wetan, Jalan Ibu Ruswo, Alun-Alun Utara, dan kembali ke Keben. Diperkirakan sekitar 4.000 masyarakat akan mengikuti ritual tahunan tersebut.
Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tradisi tersebut, pihaknya telah menggelar rapat koordinasi bersama berbagai pihak, termasuk Keraton Yogyakarta, kepolisian, TNI, relawan, kapanewon, dan kalurahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....