Momentum Refleksi Diri, Lampah Mubeng Beteng Kembali Digelar

  • 14 Jun 2026 23:19 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta akan menyelenggarakan tradisi topo bisu Lampah Mubeng Beteng menyambut malam 1 Sura 1960 Be pada Rabu, 17 Juni 2026. Kegiatan tersebut sebagai momentum untuk merefleksikan diri melalui laku mubeng beteng dengan membisu alias tidak banyak berbicara.

Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Kusumonegoro, menegaskan bahwa berdasarkan kalender Jawa Keraton Yogyakarta, 1 Sura jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026, berbeda satu hari dengan 1 Muharam 1448 Hijriah.

Ia menegaskan kegiatan tersebut merupakan hajat kawula dalem. “Jadi masyarakat yang memperingati. Kemudian, panitia atau koordinatornya itu dari Paguyuban Abdi Dalem Keraton,” ucapnya saat dihubungi, Mingguu 14 Juni 2026.

Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta mengajukan permohonan resmi kepada pihak Keraton untuk meminjam sejumlah fasilitas yang diperlukan dalam pelaksanaan prosesi tersebut. Setelah memperoleh izin, Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta membentuk kepanitiaan yang bertugas menyiapkan dan mengoordinasikan seluruh rangkaian acara.

KRT Kusumonegoro menilai filosofi Lampah Mubeng Beteng dapat dimaknai berbeda oleh setiap orang. Menurutnya, tradisi tersebut mengandung pesan untuk menjaga benteng dalam diri manusia, seperti benteng keimanan, akhlak, dan aturan yang membatasi agar tidak menyimpang dari jalan yang semestinya.

Ia menambahkan, prosesi tapa bisu bukan sekadar berjalan tanpa berbicara, melainkan menjadi sarana doa, introspeksi, dan kontemplasi atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.

“Dalam prosesi membisu ini diharapkan kita berdoa dan melakukan introspeksi sebagai bentuk kontemplasi terhadap apa yang telah dijalani pada tahun lalu, sehingga tahun yang akan datang menjadi lebih baik dari sebelumnya,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Sekretariat Bersama (Sekber) Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra menjelaskan tradisi tersebut telah berlangsung secara turun-temurun dan berakar dari budaya Jawa

Tapa bisu mubeng beteng itu memang tradisi turun-temurun yang berakar pada tradisi budaya Jawa melakukan laku keprihatinan pada momen-momen tertentu. Salah satunya menyambut datangnya bulan Sura,” ujarnya saat dihubungi, Minggu 14 Juni 2026.

Ia menjelaskan pada masa lalu tradisi tapa bisu tidak selalu dilakukan dengan mengelilingi beteng Keraton. Masyarakat dapat melakukannya dengan mengelilingi rumah atau kampung tempat tinggal masing-masing.

Namun, dalam konteks Yogyakarta sebagai wilayah Kesultanan, tradisi tersebut berkembang menjadi prosesi mengelilingi beteng Keraton. Menurut Widihasto, masyarakat yang menjalankan laku tersebut sebagai bentuk ngalap berkah dari Keraton.

Ngalap berkah itu, jadi masyarakat berharap mendapatkan berkah dari Keraton sebagai pusat kerajaan untuk mendapatkan berkah dari raja,” ucapnya menjelaskan.

Dalam pelaksanaannya, peserta akan berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton dengan rute dimulai dari Keben, kemudian menuju Ngabean, Pojok Beteng Kulon, Plengkung Gading, Pojok Beteng Wetan, Jalan Ibu Ruswo, Alun-Alun Utara, dan kembali ke Keben.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....