Menjaga Keseimbangan Hablum Minallah dan Hablum Minannas

  • 27 Agt 2026 05:12 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta — Keikhlasan, rasa syukur, dan tawakal merupakan tanda kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. Dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, seseorang akan lebih mampu menyadari berbagai nikmat dan harapan yang telah diberikan serta dipenuhi oleh-Nya, meskipun terkadang nikmat tersebut tidak dirasakan secara langsung.

Hal tersebut disampaikan Ustaz Abdul Halim, S.Ag., dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam program Mutiara Pagi RRI Yogyakarta.

Menurutnya, kejernihan dalam memandang dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah akan membuka jalan bagi seseorang untuk semakin dekat kepada-Nya. Karena itu, umat Islam diajak untuk terus membangun keikhlasan, istiqamah, rasa syukur, dan tawakal dalam menjalani kehidupan.

Ustaz Abdul Halim juga mengingatkan bahwa setiap perbuatan manusia, baik maupun buruk, akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Az-Zalzalah ayat 7 dan 8:

"Fa may ya'mal mitsqāla dzarratin khairay yarah, wa may ya'mal mitsqāla dzarratin syarray yarah."

Artinya: "Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya."

Dalam kesempatan tersebut, salah seorang pendengar, Ibu Sri, menanyakan bagaimana cara menyeimbangkan hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan manusia dengan sesama (hablum minannas).

Menjawab pertanyaan tersebut, Ustaz Abdul Halim menjelaskan bahwa kehidupan seorang Muslim harus dibangun dengan keseimbangan dalam berbuat baik kepada Allah SWT, kepada sesama manusia, dan kepada alam.

Menurutnya, hablum minallah dapat diwujudkan dengan membangun keikhlasan, istiqamah, rasa syukur, dan tawakal. Sementara itu, hablum minannas berkaitan dengan bagaimana seseorang berinteraksi, menghormati, dan berbuat baik kepada sesama.

Ia mengingatkan bahwa kesalehan kepada Allah perlu berjalan seiring dengan hubungan yang baik kepada manusia. Seseorang tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus menjaga perilakunya terhadap lingkungan dan sesama.

Sebagai contoh, seseorang mungkin rajin melaksanakan salat dan pergi ke masjid, tetapi jika dalam kehidupan sehari-hari masih membuang sampah sembarangan, maka keseimbangan dalam menjalankan ajaran agama belum terwujud secara utuh.

Ustaz Abdul Halim juga mengutip pesan dalam hadis, “Lā yarhamullāhu man lā yarhamun-nās,” yang bermakna bahwa Allah tidak menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia. Pesan tersebut menjadi pengingat pentingnya membangun kasih sayang dan hubungan yang baik dengan sesama.

Ia menegaskan bahwa membiasakan diri berbuat baik membutuhkan latihan dan proses. Kebaikan tidak selalu hadir secara instan, tetapi perlu terus dibangun melalui kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, ia menggambarkan pribadi yang ikhlas sebagai seseorang yang mampu tetap tenang di tengah suasana hiruk-pikuk dan tetap sejuk ketika menghadapi keadaan yang kacau. Sikap tersebut muncul karena seseorang telah membekali jiwanya dengan keyakinan dan tawakal kepada Allah SWT.

“Karena hanya Allah tempat mengadu,” demikian pesan yang disampaikan Ustaz Abdul Halim.

Dengan menjaga hubungan yang baik kepada Allah, sesama manusia, dan alam, kehidupan diharapkan menjadi lebih tenteram, nyaman, dan penuh ketenangan. Keseimbangan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang tidak hanya baik secara spiritual, tetapi juga harmonis dalam bermasyarakat.(rh)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....