Pancasila dan Pendidikan Kebangsaan bagi Generasi Muda

  • 20 Apr 2026 10:51 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta --Membangun karakter bangsa di tengah keberagaman dan tantangan zaman menjadi misi krusial yang terus diupayakan para akademisi dan praktisi pendidikan. Dalam dialog interaktif "Kawruh" di RRI Pro 4 Yogyakarta, Jumat 17 April 2026., Dr. Agus Wahyudi, M.Si., M.A., Ph.D., menegaskan bahwa proyek pembangunan negara-bangsa adalah sebuah proses berkelanjutan yang tidak akan pernah selesai.

Ketua Program Studi Inter-Religious Studies (IRS) Pascasarjana UGM tersebut mengungkapkan bahwa keberhasilan sebuah ideologi sangat bergantung pada kemampuannya untuk memastikan bakat-bakat terbaik warga negara dapat bertumbuh. Menurutnya, pendidikan kebangsaan bagi generasi muda tidak boleh hanya berhenti pada hafalan teks, melainkan harus menyentuh tiga dimensi penguasaan ilmu.

Dr. Agus Wahyudi membedah tiga pilar utama yang harus dimiliki warga negara, yakni Episteme (pengetahuan teoritis), Techne (keterampilan praktis), dan yang paling krusial adalah Phronesis atau kebijaksanaan praktis. Ia menilai bahwa tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini adalah bagaimana menumbuhkan Phronesis tersebut.

"Berbeda dengan pengetahuan dan keterampilan yang bisa dilatihkan melalui kurikulum formal, Phronesis atau kebijaksanaan praktis harus dialami melalui proses interaksi dan belajar dari pengalaman hidup. Hal inilah yang membuat gelar tinggi tidak selalu menjamin seseorang menjadi bijaksana dalam berbangsa," ujar Dr. Agus Wahyudi

Dosen Fakultas Filsafat UGM ini juga menyoroti bahwa pendidikan kebangsaan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga lingkungan keluarga dan instansi publik. Ia menekankan bahwa untuk mengambil keputusan yang bijak bagi bangsa, diperlukan landasan kognitif yang luas yang dipadukan dengan kematangan jiwa.

Dalam sesi diskusi yang juga menghadirkan peneliti Dr. Hastangka tersebut, muncul kegelisahan masyarakat mengenai efektivitas pendidikan nilai saat ini. Menanggapi keresahan warga terkait memudar dan belum kuatnya penanaman nilai pasca-era P4, Dr. Agus Wahyudi menekankan satu poin penting yang menjadi kunci diterimanya sebuah nilai oleh generasi muda yaitu keteladanan.

"Ideologi yang baik, jika tidak dipraktikkan secara nyata oleh para pemimpinnya, maka masyarakat akan menjadi sinis. Keteladanan adalah jembatan yang menghubungkan antara teori Pancasila dengan keyakinan di hati warga negara. Tanpa contoh nyata, nilai-nilai luhur hanya akan menjadi slogan tanpa jiwa," ujarnya.

Melalui penguatan pendidikan yang komprehensif baik formal maupun informal Dr. Agus Wahyudi berharap generasi Z dan generasi mendatang dapat menguasai masalah bangsanya secara mendalam. Hal ini dianggap sebagai benteng utama dalam menghadapi potensi perpecahan serta meningkatkan kepercayaan diri bangsa di kancah internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....