Gandeng Petani Punk, Yayasan Biijana Dirikan Dapur MBG Memanfaatkan Teknologi AI
- 12 Apr 2026 10:11 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Mendukung program Presiden Prabowo dalam meningkatkan kualitas SDM Indonesia dengan peningkatan gizi anak sekolah melalui program makan bergizi gratis (MBG) sekaligus memberdayakan petani muda. Yayasan Biijana Paksi Sitengsu membangun dapur MBG berbasis IT dengan menggandeng Petani Punk di Kabupaten Gunungkidul, progres pembangunan dapur kini sudah mencapai 80 persen.
Sekretaris Yayasan Biijana Paksi Sitengsu Tedi Anggoro mengatakan kerja sama Petani Punk Gunungkidul ini menjadi upaya yayasan untuk sekaligus memberdayakan petani muda atau petani milenial di sekitar dapur MBG. Menurutnya, selain sinergi dengan petani punk, Yayasan Biijana Paksi Sitengsu juga bersinergi dengan sejumlah kelompok masyarakat melalui program Lumbung Mataram.
"Target dapur itu insyaallah akhir bulan ini sudah bisa selesai untuk pembangunan dapur, karena tadi di survei sudah 80 persen untuk lokasinya sementara ada di Gedangsari, Playen ada tiga tempat di Banyusoco, Ngleri, Dengok, lalu ada di Ngawen," katanya, Sabtu, 11 April 2026.
Melalui sinergi dengan kelompok petani dan dengan petani punk di Gunungkidul Tedi Anggoro mengharapkan, perekonomian masyarakat dapat menggeliat dan dampak adanya dapur MBG bisa dirasakan tidak hanya penyuplai besar tetapi juga petani-petani di lingkungan sekitar. Sehingga ketika di mana ada dapur MBG berdiri, masyarakatnya juga ikut mendapatkan rezeki.
keterkaitan untuk penyuplai Kita akan bersinergi dengan masyarakat termasuk salah satunya petani punk dan ada dari program pemerintah itu adanya teman-teman yang di mana di situ dinamakan Lumbung Mataram. Kita akan mengarah ke sana supaya untuk dapur itu mohon maaf tidak dikuasai suplier-suplier tertentu gitu," ucapnya.
Meski diakui belum dapat menyuplai secara seratus persen, namun diharapkan dengan adanya kerja sama dengan masyarakat ini, dapat semakin memberdayakan petani sekaligus meningkatkan semangat generasi muda untuk menjadi petani. Tetapi meski belum sepenuhnya disuplai petani setempat, namun nantinya tetap memberdayakan kelompok.
"Kami fokuskan petani lokal di sana. Rata-rata petani ini kan umur 50 sampai sekian dan bertani itu kayaknya kok nuwun sewu kok kayaknya enggak keren. Nah, mereka-mereka (Petani Punk) itu yang membangun spirit untuk mengajak teman-teman supaya tidak keluar daripada Gunungkidul untuk bertani di sana," ujarnya.
Penggagas Petani Punk Gunungkidul Patrisna atau akrab disapa Sibagz mengatakan, dengan digandengnya petani lokal ini bersama sekitar 40 petani punk lainnya di Gunungkidul tidak lantas berhenti dari segi materi. Namun ditegaskannya, kontrol sosial juga akan dilakukan agar program ini benar-benar berjalan secara baik.
"Kita akan menjadi sebuah kontrol sosial, tidak hanya kita berkecimpung di dalamnya hanya sebatas materi ataupun karena daripada nganggur terukerja, enggak, tetapi kita akan melakukan yang terbaik. Kita tidak akan hanya sekedar berteriak, tetapi kita akan menjadi sebuah kontrol kembali lagi, dan semoga program ini menjadi program yang terbaik, tidak mengambinghitamkan petani lagi, petani wis tuwa, jarene panganan racune kerana saka petani (petani sudah tua, katanya makanan racunnya karena dari petani)," katanya.
Sibagz mengungkapkan, terdapat banyak potensi yang bisa digali untuk menyuplai bahan pangan di dapur MBG, seperti palawija, padi, maupun sayur mayur. Di samping itu, jejaring yang dibangun juga dari sisi peternakan hingga perikanan juga bisa dilakukan dari petani lokal dari masyarakat sekitar.
"Selama ini kan kita tidak tahu nih MBG yang ada di Gunungkidul yang sudah berdiri ini, benar-benar dari hasil petani Gunungkidul atau tidak. Karena kita belum sampai ke dalam itu, tetapi kalau ini besok akhir berjalan kita bisa memastikan mungkin itu dan itu tidak hanya dampak untuk petani Punk-nya, tetapi untuk regenerasi petani yang ada di Gunungkidul dan petani yang sudah berjalan di Gunungkidul," ucapnya.
Tim IT SPPG Yayasan Biijana Fajar Saptono mengatakan sistem yang dikembangkan menggunakan konsep hub untuk mengintegrasikan lima dapur yang ada. Memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) pemantauan kualitas dilakukan mulai dari bahan baku hingga produk makanan jadi yang dibagikan ke sekolah.
Bahkan lanjut Fajar, monitoring tidak berhenti makanan selesai diserahkan ke sekolah, tetapi dari sekolah bisa melakukan fungsi pengawasan secara real time untuk bisa dilihat dan menjadi evaluasi dari yayasan. Sehingga pengawasan tidak hanya dilakukan di awal tetapi hingga akhir sebagai bentuk transparansi sekaligus mengurai berbagai persoalan yang terjadi di lapangan.
"Itu nanti kita integrasikan dengan sistem hardware atau pakai IoT, misalnya timbangan digital, kemudian berupa pengukur suhu, kemudian juga CCTV, nanti datanya itu akan diolah oleh si agen AI untuk nanti dia punya spesifikasi masing-masing nih. Ada yang dia khusus untuk mempelajari kualitas dari makanan, ada yang dia bisa mengontrol tadi ACP, kemudian ada mengontrol dari sumber bahan baku dan lain-lain gitu, jadi AI itu dari depan ke belakang itu kita pakai untuk melakukan analisis begitu," ujarnya.
Melalui sistem IT yang dibangun dalam pengelolaan MBG ini diungkapkan Fajar, semakin memudahkan kontrol kualitas dapur yang dikelola dan potensi kesalahan dari kualitas hingga kepada para siswa penerima.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....