Hindari Petugas, Pendaki Ilegal Gunung Merapi Gunakan Jalur Tikus

  • 16 Mei 2026 11:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Balai TNGM mengungkap pendaki ilegal Gunung Merapi memanfaatkan jalur tikus untuk menghindari pengawasan petugas dan CCTV.
  • Pendaki ilegal biasanya masuk pada dini hari hingga pagi hari melalui jalur alternatif di wilayah Boyolali, Jawa Tengah.
  • Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan pendakian gunung memerlukan persiapan matang dan tidak dilakukan hanya karena FOMO.

RRI.CO.ID, Jakarta - Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) mengungkap pendaki ilegal memanfaatkan jalur tikus untuk masuk ke kawasan Gunung Merapi. Cara tersebut dilakukan guna menghindari pengawasan petugas dan kamera pemantau (CCTV) yang dipasang di sejumlah titik pendakian.

Kepala Balai TNGM Jawa Tengah, T. Heri Wibowo mengatakan para pendaki ilegal biasanya mulai masuk pada dini hari hingga pagi hari. Waktu tersebut dipilih karena dianggap lebih aman untuk mengelabui petugas.

"Ada yang masuk dini hari. Ada juga yang pagi hari sebelum petugas melakukan penjagaan rutin," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Sabtu, 16 Mei 2026.

Ia menjelaskan petugas sebenarnya telah melakukan pemantauan melalui kamera pengawas dan kamera jebak di sejumlah jalur pendakian. Setelah terdeteksi, petugas langsung melakukan pencarian terhadap para pendaki ilegal tersebut.

Menurutnya, modus yang paling sering dilakukan pendaki ilegal ialah menghindari pintu resmi pendakian. Pintu tersebut sebelumnya digunakan sebelum penutupan kawasan Gunung Merapi.

Mereka, kata dia, memilih jalur alternatif atau jalur tikus agar tidak terpantau kamera maupun petugas di lapangan. "Pendaki ilegal mencari pintu-pintu lain atau jalur tikus untuk menghindari pengawasan petugas," ujarnya.

Ia menambahkan salah satu jalur tikus yang kerap digunakan berada di wilayah Boyolali, Jawa Tengah. Jalur tersebut biasanya berupa jalan setapak yang sebelumnya digunakan pendaki legal sebelum kawasan Gunung Merapi.

Sebelumnya, Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyoroti banyaknya anak muda yang naik gunung tanpa persiapan. Hal ini, menurutnya, terjadi karena fenomena FOMO (fear of missing out) atau takut ketinggalan tren.

"Karena zaman sekarang ini ada FOMO anak-anak muda, fear of missing out. Karena ngetren semua berangkat, tapi yang tak kalah penting itu juga kesadaran dan menyiapkan diri," ujarnya.

Menurutnya, mendaki gunung tidak seperti berwisata ke Bali atau healing ke mal. Perlu peralatan dan persiapan fisik yang mumpuni.

Ia menegaskan, siapa pun sebenarnya boleh naik gunung, tapi, keselamatan diri menjadi hal utama yang perlu diperhatikan. "Silakan kunjungi, jelajahi Taman Nasional, tetapi dengan bertanggung jawab terhadap keselamatan masing-masing," ucapnya, menjelaskan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....