Membedah Filosofi Sakral Tanah dan Batu dalam Tradisi Bakar Batu Papua Pegunungan
- 02 Jul 2026 10:29 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, WAMENA - Dalam kebudayaan Bakar Batu masyarakat adat di Papua, khususnya masyarakat di wilayah Pegunungan Tengah seperti Suku Dani, Lani dan Suku lainnya, tanah dan batu bukan sekadar benda mati atau materi alam.
Miki Wuka dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua sekaligus aktivis ASB dan Pelaku Budaya dalam Obrolan Budaya RRI Wamena (17/6) menjelaskan keduanya memiliki kedudukan yang sangat sakral, religius, dan magis, serta menjadi fondasi dari seluruh tatanan kehidupan, sosial, dan hukum adat mereka.
Berikut adalah makna filosofis dan simbolis dari tanah dan batu dalam kebudayaan masyarakat adat Papua:
1. Filosofi Tanah: "Tanah adalah Ibu" (Mama Bumi)
Bagi masyarakat adat Papua, tanah dipandang sebagai sosok Mama yang melahirkan, menyusui, dan menghidupi manusia. Tanah menyediakan segala kebutuhan hidup secara cuma-cuma, mulai dari ubi jalar (hipere), sayur-mayur, air, hingga kayu untuk membangun rumah (honai).
Menjaga tanah sama artinya dengan berbakti kepada ibu yang telah memberi makan. Tanah adalah lambang eksistensi sebuah klan (marga).
Kehilangan tanah adat berarti kehilangan identitas, sejarah leluhur, dan harga diri. Oleh karena itu, sejengkal tanah adat akan dipertahankan dengan pertaruhan nyawa, karena merusak atau merebut tanah secara ilegal dianggap sebagai tindakan melukai "rahim" ibu.
Tanah juga dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh-roh para leluhur yang menjaga anak-cucunya. Ketika seseorang meninggal, mereka kembali ke dalam pelukan tanah.
2. Filosofi Batu: Simbol Keteguhan, Kekuatan, dan Hukum yang Abadi
Jika tanah adalah ibu yang memberikan kehidupan, maka batu adalah simbol struktur, kepastian hukum, dan saksi bisu atas segala komitmen sosial yang dibuat manusia.
Dalam sistem perkawinan adat beberapa suku, seperti Suku Dani, batu mulia atau batu kapak yang halus dan berbentuk lonjong digunakan sebagai mas kawin berharga tinggi. Batu ini melambangkan ikatan yang keras, kokoh, dan tidak mudah hancur antara dua keluarga besar yang mengikat janji.
Batu digunakan sebagai media bersumpah atau berdamai. Sumpah yang diucapkan di atas batu adat dianggap abadi dan tidak boleh dilanggar. Sifat batu yang tidak berubah oleh waktu, tidak membusuk seperti kayu, menjadikannya lambang keputusan hukum adat yang bersifat final.
3. Sinergi Tanah dan Batu dalam Tradisi "Bakar Batu"
Kombinasi antara tanah dan batu mewakili harmoni kosmis yang utuh dalam ritual Kit Oba Isago (Bakar Batu).
Batu sebagai Pengorbanan/energi panas. Batu harus dibakar hingga merah membara. Panas dari batu ini menyimbolkan semangat, kerja keras, dan pengorbanan yang membakar jiwa masyarakat demi mencapai kemaslahatan bersama.
Setelah batu panas dimasukkan ke dalam lubang tanah yang dialasi daun-daun, umbi-umbian dan daging diletakkan di atasnya, lalu ditimbun kembali dengan tanah dan rumput. Di sini, lubang tanah berfungsi seperti "rahim ibu" yang mematangkan, menghangatkan, dan mengolah semua bahan makanan mentah menjadi berkah yang siap dinikmati.
Ketika makanan matang dan dimakan bersama di atas hamparan tanah, tanah menjadi saksi bahwa semua darah (konflik) yang pernah tumpah di atasnya telah dibasuh, dan digantikan oleh perdamaian yang dikukuhkan oleh keteguhan prinsip (batu).
Secara singkat, bagi masyarakat adat Papua Pegunungan, tanah adalah sumber kehidupan yang penuh kasih sayang, sedangkan batu adalah tiang penopang keadilan, hukum, dan persatuan. Merusak tanah dan batu di wilayah adat mereka sama saja dengan merusak tatanan spiritual dan tatanan sosial yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....