Mengenal Ragam Tradisi Bakar Batu Khas Papua Pegunungan

  • 02 Jul 2026 08:40 WIB
  •  Wamena

RRI.CO.ID, WAMENA – Tradisi "Bakar Batu" bukan sekadar metode memasak masakan tradisional bagi masyarakat di wilayah Pegunungan Tengah Papua. Di balik kepulan asap dan tumpukan batu membara, ritual turun-temurun ini merupakan manifestasi tertinggi dari rasa syukur, solidaritas, pengorbanan, dan media perdamaian antarsuku yang sarat akan makna filosofis.

Meskipun secara umum dikenal sebagai ritual memasak menggunakan batu yang dipanaskan, masyarakat adat di berbagai wilayah Papua Pegunungan, terutama di kawasan sekitar Kabupaten Jayawijaya dan Lembah Baliem memiliki penyebaran istilah serta klasifikasi jenis Bakar Batu yang berbeda-beda tergantung pada tujuan pelaksanaan, wilayah adat, maupun urgensi sosialnya.

Miki Wuka dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua sekaligus aktivis ASB dan Pelaku Budaya mengungkapkan, secara sosiolinguistik, penamaan ritual massal ini sangat bervariasi di kalangan suku-suku lokal. Suku Hubula menyebut ritual ini dengan Kit Oba Isogoa.

Dalam tatanan adat, upacara Bakar Batu terbagi ke dalam beberapa jenis esensial berdasarkan fungsi dan hajatan yang sedang berlangsung di tengah masyarakat, seperti yang dibahas dalam Obrolan Budaya RRI Wamena yang disiarkan melalui kanal youtube pada 17 Juli 2026. Beberapa jenis bakar batu diantaranya:

1. Bakar Batu Pesta Perdamaian/Penyelesaian Konflik

Merupakan jenis Bakar Batu yang paling sakral dan memiliki tensi politik-sosial yang tinggi. Ritual ini digelar setelah terjadinya perang antarsuku atau konflik komunal. Melalui prosesi mematahkan panah perang dan makan bersama dari kolam batu yang sama, kedua belah pihak yang bertikai menyatakan damai, menyembuhkan luka sosial, dan sepakat untuk melupakan permusuhan.

2. Bakar Batu Urgensi Kelahiran dan Siklus Hidup

Ritual ini diadakan untuk menandai fase penting kehidupan manusia. Mulai dari syukuran kelahiran bayi, proses pemotongan tali pusar, hingga upacara pernikahan adat. Penyelenggaraannya menjadi simbol penerimaan anggota keluarga baru ke dalam tatanan klan.

3. Bakar Batu Kematian/kedukaan (Penghormatan Terakhir)

Ketika seorang kepala suku atau anggota masyarakat wafat, upacara Bakar Batu digelar sebagai ritual kedukaan sekaligus penghormatan terakhir. Hewan biasanya berupa Wam atau babi disembelih sebagai bentuk penghormatan arwah leluhur, sekaligus konsumsi bagi para pelayat yang datang dari berbagai pelosok kampung.

Dalam pelaksanaannya pun bakar batu untuk kematian ini terbagi lagi menjadi beberapa. Miki Wuka menyebutkan hari pertama dilakukan pembakaran satu ekor babi berukuran kecil segera setelah seseorang meninggal. Tujuannya adalah untuk menjaga jenazah yang akan bermalam di rumah agar tidak diganggu oleh hal-hal buruk atau hewan yang tidak diinginkan. Proses ini hanya melibatkan keluarga inti di satu rumah tersebut.

Hari kedua (Wam Wakun atau Wam Iloko), dilakukan pembakaran babi dalam jumlah lebih banyak jika tersedia. Ini merupakan bentuk ritual untuk memberi makan kepada kerabat seperti om dari pihak keluarga yang meninggal. Pada tahap ini, menu yang disajikan tidak boleh menyertakan ubi, hanya daging babi dan sayur saja.

Setelah jenazah dipulangkan atau prosesi duka selesai, dilakukan jenis bakar batu, dalam tahap ini, menunya hanya ubi saja dan dilarang keras menyertakan daging babi.

4. Bakar Batu Syukuran Hasil Bumi dan Pembangunan

Diadakan sebagai bentuk terima kasih kepada Sang Pencipta dan Ibu Pertiwi atas melimpahnya hasil panen hipere (ubi jalar), keladi, dan sayur-mayur. Jenis ini kini juga sering diadaptasi untuk acara modern, seperti peresmian gereja, pembangunan fasilitas umum, menyambut kunjungan tamu kenegaraan, hingga merayakan hari besar keagamaan.

5. Bakar Batu Tanpa Menu Makanan

Terdapat jenis ritual bakar batu yang dilakukan tanpa menu makanan. Miki Wuka menjelaskan bahwa ritual ini dikenal sebagai Lukai Isago.

Ritual ini dilakukan ketika terjadi masalah, anggota keluarga yang sakit tanpa sebab yang jelas, atau ada orang tertentu yang meninggal dunia secara tiba-tiba, sehingga keluarga ingin mencari tahu penyebab atau akar masalah dari musibah tersebut.

Meskipun menggunakan media batu dan rumput yang sama dengan proses bakar batu pada umumnya, ritual ini tidak menyertakan bahan makanan.

Dalam proses ini, terdapat bagian tertentu dari masakan (rumput yang dibakar) yang tidak akan matang. Arah bagian yang tidak matang tersebut (timur, selatan, barat, atau utara) menjadi petunjuk bagi orang yang melakukan ritual untuk menelusuri dari arah mana dan siapa sumber masalah tersebut.

Setelah sumber masalah ditemukan seperti hutang atau kasus lama yang belum terselesaikan, keluarga yang masih hidup akan melakukan permohonan maaf dan pembayaran adat agar masalah tersebut dapat teratasi.

Seiring perkembangan zaman, tradisi Bakar Batu di Papua Pegunungan menunjukkan tingkat adaptasi sosial yang tinggi, terutama dalam merangkul keragaman agama.

Pada upacara yang dihadiri oleh komunitas Muslim atau tamu undangan lintas iman, masyarakat setempat menerapkan metode "Kolam Terpisah". Jika kolam utama digunakan untuk memasak daging babi (wam) bagi warga lokal, maka akan dibuatkan lubang kolam batu tersendiri yang khusus diisi dengan daging ayam, kambing, atau sapi yang halal. Hal ini membuktikan bahwa inti dari tradisi Bakar Batu adalah menyatukan perbedaan, bukan memisahkan.

Melalui pembagian peran yang rapi, di mana para pria muda bertugas mencari kayu dan memanaskan batu, sementara kaum perempuan menyiapkan sayur dan umbi-umbian, tradisi ini terus berdiri kokoh sebagai jangkar identitas kebersamaan masyarakat Papua Pegunungan di era modern.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....