Kisah Burung Cendrawasih, Sakralitas Adat, dan Pelestarian Alam
- 06 Feb 2026 19:56 WIB
- Wamena
RRI.CO.ID, Wamena- Dibalik rimbunnya hutan Papua, saat fajar menyapa, terdengar suara nyaring yang khas. Itu adalah suara burung cendrawasih, sang "Burung Surga", yang tengah memamerkan keindahan bulu berkilau dan kelincahan gerakannya di udara pagi.
Bagi masyarakat adat Papua, kemunculan cendrawasih bukan sekadar fenomena alam biasa. Narasi turun-temurun mengisahkan bahwa tarian burung ini menandakan keseimbangan alam dan restu dari para leluhur.
Secara kultural, burung ini memiliki tempat tertinggi dalam struktur adat. EcoNusa (2022) mencatat bahwa bulu cendrawasih digunakan dalam upacara adat sebagai simbol sakral. Biasanya, mahkota bulu ini dikenakan oleh para Ondoafi (pemimpin adat tertinggi) sebagai penanda kewibawaan sekaligus tanggung jawab moral dalam memimpin masyarakat.
Cerita rakyat Papua mengisahkan cendrawasih berasal dari kisah tragis dua bersaudara yang bertikai karena kekuasaan, hingga sang adik terbunuh. Namun, jasadnya menjelma menjadi burung cendrawasih, terbang ke angkasa, dan kembali hanya untuk menari membawa damai.
Kisah inilah yang menjadikan cendrawasih sebagai penghubung antara manusia dan roh leluhur. Ia adalah simbol kehilangan, pengampunan, dan kedamaian.
Sayangnya, simbol sakral ini kini menghadapi ancaman serius. Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106 Tahun 2018 telah menetapkan cendrawasih sebagai satwa dilindungi. Langkah ini diambil menyusul penurunan populasi akibat alih fungsi lahan (deforestasi) dan perburuan liar untuk perdagangan ilegal.
Kesadaran akan perlindungan ini mulai tumbuh di kalangan generasi muda Papua. Kini, semakin banyak mama-mama dan pengrajin lokal yang memproduksi mahkota imitasi. Langkah ini diambil agar adat tetap hidup tanpa harus melukai alam.
Namun, kekhawatiran terbesar tetap ada: tarian cendrawasih di alam liar semakin jarang terlihat. Jika habitatnya hilang, maka sebagian jiwa Papua pun akan memudar. Menjaga cendrawasih bukan hanya soal melindungi satwa, melainkan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur di tanah Papua.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....