Begini Proses Pembuatan Tape di Desa Banjarsari Kabupaten Malang

  • 25 Apr 2024 13:03 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Sebagai sentral produksi tape, desa Banjarsari, kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang telah memproduksi ratusan kilo tape. Salah satu produsen tape yang cukup terkenal adalah Pak Kasrodin. Ia telah memulai usaha ini sejak tahun 2012. Dalam seharinya ia bisa memproduksi 70 hingga 80 singkong untuk tape. Kepada RRI, ia menceritakan proses pembuatannya.

Ketua kelompok tape di desa Banjarsari ini mengatakan bahwa kebanyakan penyuplai singkong adalah tengkulak. Mereka mengirim singkong ke langganannya. Selain tengkulak, produsen tape di desa ini juga menebas lahan pertanian. Tapi kebanyakan singkong ini dipasok oleh penyuplai singkong dari wilayah sekitar Ngajem.

Untuk membuat tape, Pak Kasrodin mengatakan perlu dipersiapkan alat dan bahan. Singkong atau ketan hitam dan ragi sebagai bahannya. Bahan membuat tape ini harus benar-benar dipilih yang berkualitas agar mendapat hasil yang maksimal. Beberapa alat yang dibutuhkan adalah panci, pisau, kaleng, kompor dan juga kerang tapi untuk jual keliling.

“Jika sudah dipersiapkan semuanya, hal terpenting lainnya adalah cara membersihkan singkong dan ketan agar tidak gagal dalam pembuatan tapenya. Jadi kita harus teliti dari pengupasan dan pembilasan. Pembilasan ini harus dengan air sampai benar-benar bersih. Dijaga mutu dan kualitasnya agar nanti bisa lebih maksimal hasilnya.Kalau kurang teliti dalam pembersihan mengakibatkan tape tidak bisa matang dengan sempurna,"ujarnya.

Untuk proses pembuatan tape singkong, diawali dengan yang menyiapkan bahan, kedua dikupas dan dipotong sesuai selera, lalu dibersihkan dan dikukus hingga setengah matang lalu ditiriskan 2-3jam. Setelah dingin, diberi ragi lalu ditaruh di wadah yang tertutup dan ditunggu 2 malam, dan tape tersebut sudah jadi.

“Tidak jauh beda, pembutan tape ketan juga seperti itu. Kalau ketan ya seperti menanak nasi, kita dinginkan dan di kasih ragi laku ditaruh di wadah tertutup karena kalau keadaan terbuka bisa mengakibatkan fermentasi kurang sempurna dan akan menghasilkan tape yang kecut atau tidak jadi. Untuk proses fermentasinya sebenernya hanya 2 malam dan rata rata di desa saya pemberian raginya di jam 4 sore untuk fermentasinya. Setelah semalam dan besok malamnya lagi di jam 7 an sudah siap di konsumsi,” tambahnya.

Tape Banjarsari terkenal ciri khasnya dengan potongan kecil-kecil sedangkan di daerah lain itu lebih panjang. Berbeda dengan tape daerah lain yang bertekstur keras, tape di Banjarsari berkstur lembek dan lembut, manisnya pun juga terasa.

Rekomendasi Berita