Parigi Moutong Susun Strategi Baru Percepat Penurunan Kematian Ibu-Anak

  • 05 Okt 2026 09:40 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Parigi Moutong - Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong bersama Yayasan IPAS Indonesia memperkuat langkah kolaboratif untuk menekan angka kematian ibu dan anak (KIA). Upaya itu diwujudkan melalui penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) KIA dan Kerangka Kerja Daerah (KKD) KIA yang dibahas di Bappelitbangda Parigi Moutong, Kamis, 1 Oktober 2026. Rencana tersebut diarahkan menjadi pijakan kerja konkret untuk memperkuat keselamatan ibu sekaligus melindungi generasi penerus di wilayah itu.

Parigi Moutong dipilih Bappenas dan Kementerian Kesehatan sebagai daerah percontohan atau piloting Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak (KKNPKIA) di Sulawesi Tengah. Kondisi geografis yang menantang, kapasitas fiskal daerah, serta tingginya urgensi penanganan KIA menjadi sejumlah pertimbangan dalam pemilihan lokasi. Situasi tersebut membuat upaya penurunan kematian ibu dan anak membutuhkan kerja bersama yang tidak berhenti di ruang perencanaan.

Sepanjang 2025, Parigi Moutong mencatat 10 kasus kematian ibu, sekaligus menjadi angka tertinggi kedua di Sulawesi Tengah. Pada periode yang sama, tercatat 70 kasus kematian bayi baru lahir. Eklampsia menjadi penyebab utama kematian ibu, sedangkan gangguan respirasi dan kardiovaskular mendominasi penyebab kematian anak. Tantangan itu semakin kompleks dengan angka perkawinan anak yang mencapai 13,49 persen pada 2024, cakupan pemeriksaan kehamilan ANC enam kali yang baru mencapai 44,25 persen, serta akses sanitasi dan air minum layak yang masih terbatas.

Kepala Badan Perencanaan Kabupaten Parigi Moutong, Irwan, SKM, M.Kes, mengatakan RAD KIA periode 2027–2031 harus disusun dengan indikator yang terukur dan dapat langsung diterapkan oleh perangkat daerah. “Dalam RAD nantinya, tidak lagi bersifat umum, jadi harus aplikatif dan siap dilaksanakan. Indikatornya harus jelas,” ujarnya. Menurut dia, pemerintah juga perlu mengubah pola pendekatan dengan tidak menyalahkan masyarakat atau komunitas, melainkan hadir merangkul seluruh lapisan, termasuk komunitas adat terpencil.

Penyusunan RAD KIA akan menggunakan analisis data berdasarkan karakteristik wilayah Selatan, Tengah, dan Utara Parigi Moutong. Pemerintah bersama IPAS Indonesia juga membuka ruang partisipasi masyarakat melalui lokakarya dan diskusi kelompok terarah atau FGD dari tingkat desa hingga kabupaten. Pendekatan ini diharapkan membuat kebijakan lebih dekat dengan kondisi di lapangan, sebab setiap wilayah memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda.

Konsultan IPAS Indonesia, Nur Safitri Lasibani, mengatakan keberhasilan RAD KIA membutuhkan rasa memiliki dari berbagai pihak. “RAD ini disusun secara partisipatif agar tercipta rasa kepemilikan oleh multipihak dan lintas sektor. Fokus utama kita adalah memastikan program prioritas dan alokasi anggaran KIA benar-benar masuk dalam APBD 2027,” jelasnya. Pemkab Parigi Moutong dan IPAS Indonesia pun mengawal integrasi fokus KIA ke dalam proses perencanaan dan penganggaran daerah 2027 agar rencana tidak sekedar menjadi tumpukan dokumen di atas meja.

Sebagai wadah pelaksanaan, Pemkab Parigi Moutong telah membentuk Tim Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak (TP2AKIA). Tim tersebut akan menggerakkan kolaborasi lintas dinas melalui koordinasi program, pemantauan pertengahan tahun, serta evaluasi capaian setiap tahun. Dari meja perencanaan menuju pelayanan di lapangan, langkah ini diharapkan menjadi jembatan untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih responsif, tepat sasaran, dan berbasis bukti.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....