Disdikbud Buol Perkuat Penanganan Anak Tidak Sekolah

  • 12 Sep 2026 18:15 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, TOLITOLI — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Buol terus memperkuat langkah strategis dalam menangani persoalan anak tidak sekolah (ATS) sekaligus meningkatkan kemampuan literasi dasar masyarakat. Upaya tersebut disampaikan Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dindikbud Buol, Anita S.P., M.Si., dalam dialog interaktif yang disiarkan RRI Tolitoli, Senin (7/9/2026).

Anita mengatakan, meskipun Kabupaten Buol sebelumnya pernah menyandang predikat bebas buta aksara, pemerintah daerah tetap melakukan verifikasi dan validasi data secara berkala. Proses tersebut dilakukan bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait serta operator desa untuk memastikan keberadaan anak yang belum memperoleh akses pendidikan dasar.

“Dari data 3.000-an tadi seperti yang saya sampaikan bahwa kita sudah lakukan kolaborasi dengan Dukcapil dan DPMD, di mana setiap desa ada operator desanya. Jadi data ini sudah kita verifikasi, sudah kita sisir keberadaannya,” ujar Anita.

Menurutnya, hasil verifikasi menunjukkan bahwa penyebab anak putus sekolah maupun belum memiliki kemampuan literasi dasar cukup beragam. Selain faktor ekonomi dan kemiskinan, ditemukan pula anak yang enggan bersekolah, jarak sekolah yang jauh, merasa nyaman dengan kondisi yang ada, memilih menikah dan mengurus rumah tangga, hingga mengalami trauma atau perundungan di lingkungan sekolah.

Untuk menekan angka anak tidak sekolah, Dindikbud Buol telah menjalankan berbagai program intervensi, khususnya melalui pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pendidikan. Bantuan tersebut diarahkan untuk mengurangi berbagai hambatan yang membuat anak kesulitan mengakses maupun melanjutkan pendidikan.

“Kita juga dari Dinas Pendidikan sudah begitu mengintervensi bagaimana anak yang secara ekonomi tidak bisa karena persoalan baju seragam atau perlengkapan siswa. Sudah tahun ketiga ini kita lakukan bantuan perlengkapan siswa, mulai dari sepatu, tas, kaos kaki, buku, pulpen,” jelas Anita.

Selain bantuan perlengkapan sekolah dan beasiswa bagi siswa kurang mampu, Dindikbud juga mengarahkan anak yang telah lama putus sekolah untuk kembali melanjutkan pendidikan melalui jalur nonformal. Program tersebut antara lain ditempuh melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).

Anita berharap sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, sekolah, dan orang tua semakin diperkuat. Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar seluruh anak di Kabupaten Buol memperoleh hak pendidikan yang layak sekaligus memiliki kemampuan literasi dasar yang memadai di tengah perkembangan era digitalisasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....