Ummu Balqis Bagikan Cara Membangun Kembali Kepercayaan Orang Tua
- 31 Agt 2026 10:54 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Tolitoli – Writer, entrepreneur sekaligus mahasiswa Islamic Psychology, Ummu Balqis, membagikan pandangannya mengenai pentingnya mengenali identitas diri dan mengelola proses pertumbuhan dalam hubungan keluarga, termasuk upaya membangun kembali kepercayaan dengan orang tua.
Hal tersebut disampaikan Ummu Balqis dalam podcast YouTube Suara Berkelas bersama Bilal Faranov bertajuk “Obrolan Ibu dan Anak: Cara Bertemu Dengan Dirimu Yang Hilang Dalam 30 Hari!” episode #198. Dalam diskusi tersebut, ia membahas perspektif psikologi Islam dalam memahami diri, mengelola emosi, serta memperbaiki hubungan antara anak dan orang tua.
Menurut Ummu Balqis, kekecewaan orang tua ketika anak tidak mampu memenuhi harapan merupakan perasaan yang perlu diterima terlebih dahulu. Penerimaan tersebut dinilai menjadi langkah awal sebelum seseorang berusaha memperbaiki hubungan yang sempat mengalami persoalan.
“Terkait dengan perasaan kecewa orang tua itu juga valid. Orang tua kita mungkin punya ekspektasi tersendiri terhadap kita dan kemudian kita mengecewakan. Kemudian mereka sedih, mungkin mereka marah sama kita. Pertama-tama yang harus kita lakukan, kita terima dulu kecewa mereka,” ujar Ummu Balqis.
Ia menegaskan, menerima kekecewaan orang tua bukan berarti membenarkan seluruh bentuk kemarahan atau perlakuan yang tidak tepat. Namun, penerimaan tersebut dapat membuka ruang komunikasi dan menjadi titik awal bagi kedua pihak untuk melakukan perbaikan dalam hubungan keluarga.
Ummu Balqis kemudian membagikan sejumlah langkah untuk mengembalikan kepercayaan orang tua. Anak perlu meminta maaf dengan tulus, menjelaskan proses yang melatarbelakangi kesalahan, kemudian melibatkan orang tua dalam proses perubahan dengan meminta saran serta menunjukkan perbaikan secara konsisten.
Menurutnya, konsistensi menjadi bagian penting dalam membangun kembali kepercayaan. Perubahan yang dilakukan secara terus-menerus, ditambah interaksi positif, dapat membantu menciptakan pengalaman baru dalam hubungan. Ia mengaitkan proses tersebut dengan konsep neuroplastisitas otak, yakni kemampuan otak membentuk dan memperbarui koneksi berdasarkan pengalaman.
Ia juga mengingatkan agar seseorang tidak mudah menyerah ketika upaya memperbaiki hubungan belum langsung mendapatkan penerimaan dari orang tua. Proses tersebut membutuhkan waktu, kesabaran dan konsistensi. Dalam konteks pengasuhan, ia menilai orang tua memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mendidik anak sesuai nilai yang diridhai Allah SWT, baik dalam kehidupan dunia maupun aspek spiritual.
Ummu Balqis menegaskan bahwa anak bukanlah milik orang tua, melainkan amanah dari Allah SWT. Karena itu, hubungan anak dan orang tua membutuhkan kemauan kedua belah pihak untuk saling memahami, belajar dan bertumbuh, sehingga keluarga dapat menjadi ruang untuk memperbaiki diri sekaligus membangun hubungan yang lebih sehat dan harmonis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....