Ratusan Hektare Jagung di Buol Terancam Gagal Panen
- 15 Agt 2026 11:07 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, TOLITOLI – Gelombang panas dan kemarau berkepanjangan yang dipicu fenomena El Niño mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian jagung di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Ratusan hektare lahan jagung dilaporkan mengalami kekeringan dan berada di ambang gagal panen atau puso.
Kondisi tersebut terlihat di sejumlah wilayah yang menjadi sentra produksi jagung, di antaranya Kecamatan Momunu, Biau, dan Tiloan. Tanaman jagung yang rata-rata berusia satu hingga dua bulan tampak meranggas akibat minimnya pasokan air.
Daun tanaman yang seharusnya berwarna hijau segar mulai menguning dan menggulung. Sementara itu, sebagian tanaman mengalami pertumbuhan tidak maksimal, dengan tongkol yang berukuran kecil bahkan tidak terisi akibat kekurangan air.
| Baca juga: Program Buol Terang Capai 650 Titik PJU |
Kondisi ini menjadi perhatian karena jagung merupakan salah satu komoditas penting bagi perekonomian masyarakat Buol. Jika gagal panen terjadi secara meluas, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga dapat mengganggu rantai pasok jagung untuk kebutuhan pakan ternak serta berpotensi mempengaruhi harga di pasaran.
Salah seorang petani jagung di Desa Kodolagon, Kabupaten Buol, Asrul, mengatakan rendahnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir membuat tanaman jagung yang diusahakannya terancam gagal panen.
“Sudah hampir dua bulan hujan tidak turun secara normal. Tanaman jagung kami sangat membutuhkan air di fase pembuahan. Jika dalam satu atau dua minggu kedepan tetap tidak ada hujan, dipastikan 100 persen tanaman kami mati dan kami tidak bisa panen sama sekali,” ujar Asrul kepada RRI.co.id, Jumat (14/8/2026).
Menurut Asrul, kondisi serupa juga terjadi di sejumlah sentra tanaman jagung lainnya, termasuk Kecamatan Momunu. Bahkan, sebagian petani disebut telah mengalami gagal panen dan hanya bisa pasrah menghadapi kondisi cuaca yang terjadi.
Asrul menambahkan, ancaman gagal panen juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi besar bagi petani. Pasalnya, biaya yang dikeluarkan untuk membeli benih unggul, pupuk, hingga operasional lahan mencapai jutaan rupiah untuk setiap hektar.
Sebagian modal tersebut, kata Asrul, diperoleh melalui pinjaman untuk membiayai kegiatan usaha tani. Karena itu, apabila tanaman gagal panen total, petani tidak hanya kehilangan hasil produksi, tetapi juga menghadapi kewajiban mengembalikan modal yang telah dipinjam.
Petani berharap kondisi cuaca segera membaik dan hujan kembali turun secara normal sehingga tanaman jagung yang masih bertahan dapat diselamatkan. Upaya penanganan dan dukungan terhadap petani juga dinilai penting untuk mengurangi dampak ekonomi akibat kemarau panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....